SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Tampilkan postingan dengan label Surga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surga. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Maret 2021

ADAB ISLAM DALAM MENGUCAPKAN SALAM DAN MEMBALASNYA

ADAB ISLAM DALAM MENGUCAPKAN SALAM DAN MEMBALASNYA

Mengucapkan salam dan juga membalasnya, ada adabnya dalam Islam, dan berikut ini adab-adabnya :

1. Ucapkan salam dengan lafadz yang lebih baik

Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَشْرٌ

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan, "Assalaamu ‘alaikum". Maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sepuluh".

 ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: عِشْرُوْنَ

Kemudian datang orang lain (yang kedua) memberi salam, "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah". Setelah dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Dua puluh".

 ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: ثَلاَثُوْنَ

Kemudian datang yang lain (ketiga) dan mengucapkan salam, "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh". Maka, dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia pun duduk dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Tiga puluh". (Hr. Al-Bukhari, dan lainnya).

Hadits ini menunjukkan ucapan salam yang lebih baik, maka nilai pahalanya lebih besar.

2. Tidak boleh mengucapkan salam dengan lafadz,

اَلسَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan tercurah hanya kepada orang yang mengikuti petunjuk”.

Lafadz salam ini hanya Nabi ucapkan kepada Raja Hiraclius yang beragama Nasrani, sebagaimana yang ditulis dalam surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ إِلَى هَرَقْلِ عَظِيْمِ الرُّوْمِ، سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى…

“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad hamba Allah dan utusannya, kepada Hiraclius penguasa bangsa Romawi, keselamatan bagi orang-orang yang mau mengikuti petunjuk”.

Ucapan salam seperti yang diatas hanya boleh diucapkan kepada orang kafir, dan tidak sepantasnya diucapkan kepada sesama muslim.

3. Tidak boleh mengucapkan salam dengan lafadz,

عَلَيْكَ السَّلاَمُ

“Semoga keselamatan senantiasa tercurah atasmu”.

Dalam sebuah riwayat dikatakan, seorang laki-laki bernama Abu Jura al-Hujaimi berkata, Aku mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun aku tidak mendapatinya, kemudian aku duduk, tiba-tiba datang sekelompok orang dan beliau ada di antara mereka sedang aku tidak mengenalnya, saat itu beliau sedang mendamaikan beberapa dari mereka (yang berselisih). Kemudian setelah selesai ada sebagian dari mereka yang berdiri bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah’, tatkala aku melihat hal tersebut, maka aku katakan,

عَلَيْكَ السَّلاَمُ، يَارَسُوْلَ اللهِ 

"Alaikas salaam ya Rasulullah" (artinya : Semoga keselamatan senantiasa tercurah atasmu wahai Rasulullah, 3 kali).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Janganlah engkau berkata (mengucapkan salam) seperti itu.

إِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى

Sesungguhnya, "Alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati". (Nabi berkata 3 kali).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatiku dan berkata,

إِذَا لَقِيَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَلْيَقُلِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Apabila seseorang bertemu dengan saudaranya sesama muslim, hendaklah ia mengucapkan : "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah".

ثُمَّ رَدَّ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan jawabannya kepadaku : "Wa ‘alaika warahmatullaahi" (dan semoga rahmat Allah juga terlimpah atasmu). (Nabi berkata 3 kali). (Hr. Abu Dawud, no. 4084, at-Tirmidzi, no. 2721).

4. Tidak boleh memberi salam hanya dengan isarat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَ الْيَهُوْدِ، فَإِنَّ تَسْلِيْمَهُمْ بِالرُّؤُوْسِ وَاْلأَكْفِ وَاْلإِشَارَةِ

“Janganlah kalian memberikan salam sebagaimana salamnya orang-orang Yahudi. Karena sesungguhnya cara Yahudi memberi salam adalah dengan (anggukan) kepala dan lambaian tangan atau dengan isyarat (tertentu)”. (Hr. At-Tirmidzi, no. 2695).

Larangan memberi salam dengan isarat, hanya berlaku kepada orang yang mampu mengucapkan salam dengan lisan. Akan tetapi bagi mereka yang mempunyai kesibukan dan tidak dapat menjawab atau mengucapkan salam dengan lisan, seperti orang yang sedang shalat atau kepada orang yang keadaannya jauh, atau orang bisu atau juga kepada orang tuli, maka larangan tersebut tidak berlaku.

5. Ucapkan salam kepada yang dikenal maupun kepada yang tidak dikenal

Abdullah bin Amr mengatakan, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ ؟

“Amalan islam apa yang paling baik ?”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Memberi makan (kepada orang yang butuh), dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenali”. (Hr. Bukhari no. 6236).

Dan di antara tanda kiamat adalah mengucapkan salam kepada orang yang dikenal saja, tidak mau mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat disana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenal saja”. (Lihat Fathul Bari, 17/458).

Ibnu Mas’ud berkata,

إِنَّهُ سَيَأْتِي عَلَى النَّاس زَمَان يَكُون السَّلَام فِيهِ لِلْمَعْرِفَةِ

“Sungguh akan datang suatu masa, pada masa tersebut seseorang hanya akan mengucapkan salam pada orang yang dia kenali saja”.

Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri), dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini”. (Lihat Fathul Bari, 17/459).

Dan tidak tepat berdalil dengan hadits di atas untuk memulai mengucapkan salam pada orang kafir, karena memulai salam hanya disyari’atkan bagi sesama muslim. Jika kita tahu bahwa orang tersebut muslim, maka hendaklah kita mengucapkan salam padanya. Atau mungkin dalam rangka hati-hati, kita juga tidak terlarang memulai mengucapkan salam padanya sampai kita mengetahui bahwa dia itu kafir. (Lihat Fathul Bari, 17/459).

6. Ucapkan salam kepada anak-anak

Diriwayatkan dari Anas, bahwa dia melewati beberapa anak-anak kecil lalu dia memberi salam kepada mereka dan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini”. (Hr. Bukhari no. 6247, Muslim no. 2168).

Memberi ucapan salam kepada anak-anak sebagai pendidikan supaya mereka mengenal adab Islam dan mereka menjadi orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia.

7. Ucapkan salam apabila memasuki atau meninggalkan majlis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، ثُمَّ إِذَا قَامَ وَالْقَوْمُ جُلُوْسٌ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ

“Apabila salah seorang diantara kalian sampai pada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Jika setelah itu hendak duduk, maka duduklah. Kemudian apabila ia hendak berdiri meninggalkan majelis sedangkan orang lain masih duduk hendaklah mengucapkan salam, karena saat kedatangan tidak lebih berhak untuk diucapkan salam didalamnya dari saat kepergian”. (Hr. Ahmad).

8. Balaslah salam dengan yang lebih baik atau minimal dengan yang serupa

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)”. (Qs. An Nisa’: 86).

Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, maka balaslah salamnya itu dengan salam yang lebih baik darinya, atau balaslah ia dengan salam yang sama. Salam lebihan hukumnya sunat, dan salam yang semisal hukumnya fardu. (Tafsir Ibnu Katsir, Qs. An Nisa’: 86).

Bentuk membalas salam disini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi.

Contohnya : Jika saudara kita memberi salam: "Assalaamu ‘alaikum", maka minimal kita jawab, "Wa ’alaikumus salam". Atau yang lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, dijawab dengan, "Wa ’alaikumus salam wa rahmatullah", atau kita tambahkan lagi, "Wa ’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh".

Begitu pula jika kita diberi salam, "Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah", maka minimal kita jawab, "Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi", atau jika ingin yang lebih baik, kita ucapkan, "Wa ’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokaatuh".

Apabila kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas dengan suara lirih.

Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum dan menghadapkan wajah padanya. Itulah di antara bentuk membalas yang baik.

Hendaklah kita membalas salam minimal sama dengan salam pertama tadi, begitu juga dalam tata cara penyampaiannya. Namun, jika kita ingin lebih baik dan lebih mendapatkan keutamaan, maka hendaklah kita membalas salam tersebut dengan yang lebih baik, sebagaimana yang dicontohkan diatas.

(Lihat penjelasan ini di Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada Bab ‘Al Mubadaroh ilal Khiyarot).

8. Dibolehkan berdiri untuk memberi ucapan salam

Dibolehkan berdiri untuk memberi ucapan salam sebagai ucapan selamat atau belasungkawa atau berdiri untuk menolong orang yang sudah jompo (lemah) atau berdirinya seorang anak untuk (menghormati) orang tuanya atau seorang isteri kepada suaminya atau sebaliknya, sebagaimana juga berdirinya untuk menyambut orang yang baru datang dari bepergian (safar), juga berdiri seseorang dari majelisnya untuk menyambut orang yang datang pada majelis tersebut.

Dan begitu juga tidak boleh seseorang atau lebih berdiri dalam rangka memberi hormat kepada seseorang yang sedang duduk, sebagaimana kebiasaan para raja atau penguasa bengis lainnya. Namun dikecualikan dalam hal ini apabila berdiri untuk tujuan yang bermanfaat, sebagaimana berdirinya Ma’qil bin Yasar untuk mengangkat ranting dari bongkahan kayu yang ada diatas kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa Bai’ah”. (Hr. Muslim).

Sedangkan sengaja bangkit berdiri ketika melihat seseorang, seperti ketika orang-orang berada disuatu majelis kemudian datang seseorang lalu mereka berdiri dan memberi salam padanya, pendapat yang kuat dalam hal ini adalah haram hukumnya. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Mu’awiyah bahwa dia pernah masuk ke suatu rumah yang didalamnya terdapat Ibnu Amir dan Ibnuz Zubair. Kemudian Ibnu Amir berdiri sedangkan Ibnuz Zubair tetap duduk. Lalu Mu’awiyah berkata, “Duduklah, sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الْعِبَادُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

"Barangsiapa yang senang jika para hamba Allah berdiri (memberi hormat) kepadanya, maka silakan menempati tempat duduknya didalam Neraka". (Hr. Abu Dawud no. 5229, at-Tirmidzi no. 2915, Ahmad IV/93, 100).

Alhamdulilllah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Semoga bermanfa'at.


Disunting dengan sedikit perubahan redaksi dari :

https://rumaysho.com/182-ucapan-salam-amalan-mulia-yang-ditinggalkan.html

https://almanhaj.or.id/4008-adab-adab-mengucapkan-salam.html


________________

Minggu, 07 Maret 2021

TINGGI NABI ADAM MENCAPAI 30 METER

TINGGI NABI ADAM MENCAPAI 30 METER

Nabi Adam 'alaihis sallam memiliki postur tinggi badan mencapai 60 hasta atau sekitar 27,43 meter. 

Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam sabdanya yang artinya, “Allah telah menjadikan Adam dengan ketinggian 60 hasta kemudian (Allah) berfirman : "Pergilah dan memberi salamlah kepada para malaikat itu, dan dengarkanlah mereka memberi hormat kepada engkau. Itulah kehormatan engkau dan keturunan engkau". Lalu (Adam) mengucapkan : "Assalamu ‘alaikum", maka (para malaikat) mengucapkan "Assalamu 'alaika wa rahmatullah", (para malaikat) menambahkan : "Warahmatullah", maka setiap orang yang masuk Surga serupa dengan Adam (dalam hal perawakan/postur dan gambaran), dan manusia itu senantiasa bertambah kecil sampai sekarang”. (Hr. Bukhari dan Muslim).

Ketinggian Nabi Adam yang mencapai kurang lebih 30 meter diperkuat dengan penelitian biologist dari Hebrew University, Dr. Shlomi Lesser. Dalam jurnal yang berjudul Ha-Mada Ha-Yisraeli B’Angleet V’Ivreet, Dr. Shlomi menyatakan, jika tinggi manusia rata-rata seperti saat ini, maka tinggi leluhur manusia dahulu seharusnya 90 kaki atau 27 meter. Hal itu terjadi karena manusia mengalami penyusutan ukuran badan yang disebut dengan genetic bottleneck.


Disunting dari: https://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/tinggi-nabi-adam-mencapai-30-meter.htm


___

TEMPAT NABI ADAM DITURUNKAN DI BUMI

TEMPAT NABI ADAM DITURUNKAN DI BUMI

Didalam Al-Qur'an Allah Ta'ala menurunkan Nabi Adam 'alaihis salam di Bumi, setelah Nabi Adam memakan buah pohon larangan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an,

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

“Lalu keduanya (Adam dan Hawa) digelincirkan oleh syaitan dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula. Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu !, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (Qs. al-Baqarah: 36).

Adapun mengenai tempat dimana Nabi Adam 'alaihis salam diturunkan, tidak ada keterangannya baik didalam Al-Qur'an maupun didalam hadits Nabi yang sohih.

Memang ada beberapa hadits yang menyebutkan tempat turunnya Adam di Bumi, namun statusnya dhaif (lemah).

Seperti hadis,

نزل آدم الهند واستوحش

"Adam turun di India dan beliau merasa asing".

Hadis ini diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskus (7/437), dan statusnya dhaif (lemah). Sebagaimana keterangan dalam as-Silsilah ad-Daifah.

Karena diturunkannya Nabi Adam alaihis salam di Bumi tidak ada keterangan dari Al-Qur'an dan hadits Nabi yang sohih, maka para Ulama memiliki pendapat yang berbeda.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan, ada sekitar 4 pendapat Ulama mengenai hal ini, yaitu :

1. Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jedah. Ini pendapat dari Imam Hasan al-Bashri.

2. Adam dan Hawa keduanya sama-sama diturunkan di India.

3. Adam diturunkan di Dahna, suatu daerah antara Mekah dan Thaif. Ini keterangan dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim. Sementara dalam riwayat Imran bin Uyainah, Dahna adalah satu tempat di India.

4. Adam diturunkan di Shafa dan Hawa diturunkan di Marwah. Ini merupakan keterangan Ibnu Umar menurut riwayat Ibnu Abi Hatim.

(Tafsir Ibnu Katsir, 1/237).

Terlepas dari semua pendapat diatas, kajian masalah ini masuk dalam ranah kajian masalah ghaib. Sementara kita tidak boleh berbicara masalah ghaib kecuali sebatas kabar yang diberitakan oleh pemilik kabar ghaib, Allah ta’ala atau melalui wahyu Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disamping itu, mengetahui dimana Adam dan Hawa diturunkan dengan pasti juga, tidak akan memberikan pengaruh yang berarti bagi ketakwaan kita.

Allahu a’lam.


Disunting dengan sedikit perubahan dari: https://konsultasisyariah.com/29315-tempat-adam-diturunkan.html


___

SURGA YANG PERNAH DITEMPATI NABI ADAM, ADALAH SURGA YANG AKAN DITEMPATI ORANG-ORANG BERIMAN NANTI

SURGA YANG PERNAH DITEMPATI NABI ADAM, ADALAH SURGA YANG AKAN DITEMPATI ORANG-ORANG BERIMAN NANTI

Apakah Surga yang akan ditempati orang-orang beriman nanti adalah Surga yang pernah ditempati Nabi Adam dahulu ?

Jawaban :

Ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini, akan tetapi jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat bahwa Surga yang pernah ditempati Nabi Adam dahulu adalah Surga yang ada di langit, yaitu Surga yang kelak akan di huni oleh orang-orang yang beriman nanti.

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini ialah hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam, yang bersabda,

يجمع الله تبارك وتعالى الناس فيقوم المؤمنون حتى تزلف لهم الجنة فيأتون آدم فيقولون يا أبانا استفتح لنا الجنة فيقول وهل أخرجكم من الجنة إلا خطيئة أبيكم آدم

"Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi akan mengumpulkan manusia, kemudian ketika Surga telah didekatkan, maka orang-orang beriman akan bangkit, dan mendatangi Nabi Adam 'alaihis salam, kemudian mereka akan berkata kepadanya, "Wahai bapak kami, mohonlah agar Surga segera dibukakan untuk kami". Maka Adam menjawab, "Tidaklah ada yang mengeluarkan kalian dari Surga, melainkan kesalahan bapakmu Adam ?”. (Hr. Abu Dawud).

Dan juga hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

احتج آدم وموسى عليهما السلام عند ربهما فحج آدم موسى. قال موسى: أنت آدم الذي خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه وأسجد لك ملائكته وأسكنك في جنته ثم أهبطت الناس بخطيئتك إلى الأرض

“Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimas salam pernah berdebat disisi Allah, maka Nabi Adam berhasil mengalahkan Nabi Musa. Nabi Musa berkata, "Wahai Adam, engkaulah orang yang Allah ciptakan langsung dengan Tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu, dan Allah juga telah memberimu kesempatan untuk tinggal di Surga-Nya, kemudian engkau karena dosamu menurunkan seluruh manusia (anak keturunanmu) ke bumi". (Hr. Muslim).

Dari kedua hadits ini dan juga dalil-dalil lainnya, jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat, bahwa Surga yang pernah dihuni Nabi Adam ‘alaihis sallam beserta istrinya Hawa adalah Surga yang ada di langit, bukan Surga dengan pengertian taman yang indah yang ada di bumi.

Walau demikian ada sebagian ulama salaf yang berpendapat bahwa Surga yang dimaksud ialah Surga khusus yang telah Allah siapkan untuk menguji Nabi Adam ‘alaihis sallam bersama istrinya Hawa.

Kemudian ulama yang berpendapat demikian ini terbagi menjadi dua kelompok :

Yang pertama mengatakan, Surga khusus ini berada di langit, dan kelompok kedua mengatakan bahwa letak Surga khusus ini ada di bumi.

Ulama yang mengatakan pendapat kedua ini beralasan, Karena Nabi Adam ‘alaihis sallam dan istrinya Hawa mendapatkan tugas agar tidak memakan satu jenis buah suatu pohon, dan Nabi Adam ‘alaihis sallam tidur, dan juga Iblis dapat masuk ke dalamnya, semua ini menunjukkan bahwa Surga yang dimaksud bukanlah Surga yang akan dihuni oleh orang-orang beriman nanti setelah datangnya hari qiyamat.

Apabila diamati lebih jauh, maka pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama yang berpendapat bahwa Surga yang pernah dihuni Nabi Adam ‘alaihis sallam beserta istrinya Hawa adalah surga yang ada di langit, yang akan dihuni oleh orang-orang yang beriman nanti, bukan Surga dengan pengertian taman yang indah yang ada di bumi, karena didukung oleh pemahaman kedua hadits di atas.

Wallahu a'lam.


Disunting dengan sedikit perubahan redaksi dari: https://konsultasisyariah.com/39-surga-yang-pernah-ditempati-nabi-adam-alaihissalam.html


___

Sabtu, 06 Maret 2021

CARA IBLIS MENGGODA ADAM DI SURGA

CARA IBLIS MENGGODA ADAM DI SURGA

● Yang menggoda Adam di Surga adalah Iblis

Ulama sepakat bahwa yang menggoda Adam untuk memakan buah larangan adalah Iblis.

Imam Al-Qurthubi mengatakan,

وَلَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ التَّأْوِيلِ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ إِبْلِيسَ كَانَ مُتَوَلِّيَ إِغْوَاءِ آدَمَ

"Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tafsir dan yang lainnya, bahwa Iblis lah pelaku yang menggoda Adam.

Bagaimana cara Iblis Menggoda Adam di Surga ?

Jawaban :

Berikut ini diantara ayat yang menyebutkan cara iblis menggoda Adam di Surga.

Allah Ta'ala berfirman,

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ

"Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan syaitan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat, atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam Surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya". (Qs. al-A’raf: 20 - 22).

✺ Cara Iblis menggoda Adam

Ada dua pendapat Ulama yang berbeda tentang cara Iblis menggoda Adam ‘alaihis salam.

Al-Qurthubi menyebutkan adanya dua pendapat dalam hal ini,

✱ Pendapat pertama : Iblis menggoda Adam secara lisan, dalam bentuk dialog dengan ucapan.

Ini merupakan pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum, dan mayoritas ulama. Artinya, Iblis tidak menggoda melalui bisikan hati.

Al-Qurthubi mengatakan,

وَاخْتُلِفَ فِي الْكَيْفِيَّةِ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ أَغْوَاهُمَا مُشَافَهَةً، وَدَلِيلُ ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ”وَقاسَمَهُما إِنِّي لَكُما لَمِنَ النَّاصِحِينَ” وَالْمُقَاسَمَةُ ظَاهِرُهَا الْمُشَافَهَةُ

Ulama berbeda pendapat mengenai cara bagaimana Iblis menggoda Adam. Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan dialog secara lisan. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”. Adanya sumpah menunjukkan bahwa itu dilakukan secara lisan (bukan bisikan). (Tafsir al-Qurthubi, 1/312).

✱ Pendapat kedua : Iblis menggoda Adam melalui was-was dan bisikan hati. Dan bukan secara lisan.

Al-Qurthubi menukil keterangan ulama lainnya,

وقالت طائفة: إن إبليس لم يدخل الجنة إلى آدم بعدما أخرج منها، وإنما أغوى بشيطانه وسلطانه ووساوسه التي أعطاه الله تعالى، كما قال صلى الله عليه وسلم: “إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم

Sebagian ulama mengatakan, bahwa Iblis tidak masuk Surga untuk menemui Adam setelah dia diusir dari Surga. Namun Iblis menggoda Adam dengan kekuatan setannya dan was-wasnya kepada Adam, yang kemampuan itu Allah berikan kepadanya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setan mengalir di pembuluh darah bani Adam”.

Dan pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu pendapat mayoritas ulama, bahwa Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan dialog secara lisan, ditunjukkan dengan adanya ayat yang menegaskan sumpah Iblis dihadapan Adam.

Wallahu a'lam


Disunting dengan sedikit perubahan redaksi dari: https://konsultasisyariah.com/23872-bagaimana-iblis-menggoda-adam-sementara-dia-telah-diusir-dari-surga.html


___

CARA IBLIS MASUK KEDALAM SURGA UNTUK MENGGODA ADAM DAN HAWA

CARA IBLIS MASUK KEDALAM SURGA UNTUK MENGGODA ADAM DAN HAWA

Setelah iblis diusir dari Surga, karena tidak menuruti perintah Allah Ta'ala untuk sujud kepada Adam, kemudian bagaimana caranya Iblis bisa masuk kembali kedalam Surga, sehingga iblis bisa mendatangi Adam dan Hawa untuk menggodanya ?

Jawaban :

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini,

✱ Pendapat pertama : Iblis masuk kedalam Surga bersama ular

Imam al-Qurthubi menyebutkan keterangan dari Wahb bin Munabih (ulama tabiin), yang diriwayatkan Ibnu Razaq,

دخل إبليس الجنة في فم الحية، وهي ذات أربع كالبُخْتِيَة من أحسن دابة خلقها الله تعالى بعد أن عرض نفسه على كثير من الحيوان فلم يدخله الجنة، فلما دخلت به الجنة خرج من جوفها إبليس، فأخذ من الشجرة التي نهى الله آدم وزوجه عنها، فجاء بها إلى حواء فقال: انظري إلى هذه الشجرة، ما أطيب ريحها وأطيب طعمها وأحسن لونها! فلم يزل يغويها حتى أخذتها حواء فأكلتها، ثم أغوى آدم، وقالت له حواء: كل فإني أكلت منها، فلم تضرني، فأكل منها فبدت لهما سوآتهما، وحصلا في حكم الذنب، فدخل آدم في جوف الشجرة، فناداه ربه: أين أنت؟ فقال: أنا هذا يا رب، قال: ألا تخرج؟ قال أستحي منك يا رب،  فقال الله لآدم: اهبط إلى الأرض التي خلقت منها، ولعنت الحية، وردت قوائمها في جوفها، وجُعِلت العداوة بينها وبين بني آدم، ولذلك أمرنا بقتلها…

Iblis masuk ke dalam Surga melalui mulut ular, sebagaimana onta Bukhtiyah, binatang tunggangan yang paling indah, yang Allah ciptakan. Setelah Iblis menawarkan diri ke semua binatang, namun tidak ada yang bersedia mengajaknya masuk Surga.

Setelah ular itu masuk ke dalam Surga bersama Iblis, keluarlah dia (iblis) dari perut ular itu. Kemudian dia menuju pohon larangan bagi Adam dan Hawa itu. Pertama kali dia (iblis) mempengaruhi Hawa. Dia (iblis) membawa pohon itu ke Hawa,

"Lihatlah pohon ini, baunya harum, rasanya lezat, dan warnanya indah". Dia (iblis) terus mempengaruhi Hawa, hingga Hawa pun mengambil pohon itu dan memakannya.

Kemudian dia menggoda Adam.

Kata Hawa, "Makanlah, aku sudah makan, tidak ada masalah apa-apa".

Adam pun makan dari pohon itu, tiba-tiba pakaian mereka terbuka dan terlihat kemaluan mereka. Karena mereka melakukan perbuatan dosa.

Lalu Adam masuk ke pohon itu, dan dipanggil oleh Allah.

“Dimana kamu ?”, tanya Allah. (Dia Maha Mengetahui).

"Saya disini, Ya Allah", jawab Adam.

“Mengapa kamu tidak keluar dari situ ?”, tanya Allah.

"Saya malu kepada-Mu, Ya Allah", jawab Adam.

Lalu Allah Ta'ala berfirman kepada Adam : “Turunlah ke Bumi, asal penciptaanmu”.

Ular itupun dilaknat, dan kakinya dilenyapkan menjadi bagian perutnya, serta dijadikan permusuhan antara ular dengan manusia. Karena itulah, kita diperintahkan untuk membunuhnya". (Tafsir al-Qurthubi, 1/313).

✱ Pendapat kedua : Iblis masih memungkinkan masuk Surga, hanya saja tidak dimuliakan dan masuk dalam keadaan terhina.

Al-Baidhawi menyebutkan,

قيل: إنه منع من الدخول على جهة التكرمة كما كان يدخل مع الملائكة، ولم يمنع أن يدخل للوسوسة ابتلاء لآدم وحواء

Ada yang mengatakan, dia (iblis) tidak boleh masuk kedalam Surga dengan penghormatan, sebagaimana dulu dia masuk ke dalam Surga bersama para Malaikat. Dan dia tidak dilarang untuk menggoda Adam sebagai ujian bagi Adam dan Hawa. (Tafsir al-Baidhawi, 1/72).

Kesimpulannya :

Masalah ini adalah ghaib. Tidak ada yang tahu kejadian aslinya, kecuali Allah dan para pelaku sejarah peristiwa itu. Sehingga tidak ada ruang untuk berijtihad atau menghayalkan bagaimana keadaan sejatinya.

Hanya saja yang penting untuk ditekankan disini, bahwa kita wajib mengimani semua kabar yang Allah ceritakan dalam al-Quran. Meskipun bisa jadi berita itu mengundang tanda tanya di benak kita.

Andai tidak ada keterangan Ulama tentang bagaimana Iblis menyesatkan Adam, kita tetap wajib percaya bahwa Iblis adalah pelaku yang menyesatkan Adam ketika di Surga.

Allahu a’lam.


Disunting dengan sedikit perubahan redaksi dari: https://konsultasisyariah.com/23872-bagaimana-iblis-menggoda-adam-sementara-dia-telah-diusir-dari-surga.html


___

Jumat, 05 Maret 2021

KISAH PENCIPTAAN ADAM

KISAH PENCIPTAAN ADAM

● Sebelum menciptakan Adam, Allah memberitahukannya kepada para Malaikat

Allah Ta'ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

"Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi”.

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

"Mereka (para Malaikat) berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?”.

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Allah berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs. Al-Baqarah: 30).

Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam 'alaihis sallam diciptakan. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah dan Tafsir Ibnu Katsir, Surat al-Baqarah: 30).

● Allah perintahkan para Malaikat dan Jin bersujud kepada Adam

Setelah Adam 'alaihis sallam diciptakan, Allah Ta'ala memerintahkan para Malaikat dan Jin untuk sujud kepada Adam.

Allah Ta'ala berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (inkar)". (Qs. Al-baqarah: 34).

Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada Adam 'alaihis sallam.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis, bukan kepada semua Malaikat yang ada di langit, ‘Sujudlah kepada Adam !’. Semua Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan menyombongkan diri. Dia mengatakan, ‘saya tidak akan sujud kepadanya. Saya lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau ciptakan dari tanah’. Iblis memandang bahwa api lebih kuat daripada tanah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Sujud yang dimaksudkan pada ayat diatas adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang seperti dalam shalat merupakan hak Allah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah Azza wa Jalla. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

● Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama

Kemuliaan lain yang Allah berikan kepada Nabi Adam adalah diajarinya seluruh nama-nama benda dihadapan para Malaikat.

Allah Ta'ala berfirman,

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang benar orang-orang yang benar !”.

Allah Ta'ala berfirman,

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ  إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

"Mereka menjawab, maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Allah Ta'ala berfirman,

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ

"Allah berfirman, hai Adam !, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”.

Allah Ta'ala berfirman,

فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

"Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan ?”. (Qs. Al-Baqarah: 31-33).

● Allah perintahkan Adam untuk tinggal di Surga

Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam, Allah perintahkan Adam untuk tinggal dalam Surga.

Allah Ta'ala berfirman,

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan Kami berfirman, Wahai Adam !, tinggallah engkau dan isterimu di Surga ini !. Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim". (Qs. Al-Baqarah: 35).

Untuk melengkapi kebahagian Adam 'alaihis sallam, Allah menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk Adam 'alaihis sallam untuk menemaninya di dalam Surga, keduanya diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan satu jenis buah.

Para Ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang dilarang untuk di makan itu. Sebagian mereka menyebutkan buah anggur, dan ada yang berpendapat buah zaitun, dan ada yang mengatakan gandum. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah dan tafsir Ibnu Katsir).

Jenis buah yang terlarang bagi Adam 'alaihis sallam dan Hawa untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, walaupun sebagian Ulama menyebutkan beberapa jenis buah, tapi selama Allah tidak menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik. (Llihat, Tafsir Suratil Baqarah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 129).


Disunting dengan sedikit perubahan redaksi dari: https://almanhaj.or.id/5919-kisah-penciptaan-nabi-adam-alaihissallam.html


________

BENARKAH HAWA DICIPTAKAN DARI TULANG RUSUK ADAM ?

BENARKAH HAWA DICIPTAKAN DARI TULANG RUSUK ADAM ?

Benarkah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, lalu bagaimana prosesnya ?

Jawab :

Allah Ta'ala berfirman di awal surat an-Nisa :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak". (Qs. An-Nisa: 1).

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam at-Thabari mengatakan,

(خَلَقَكُمْ) أيها الناس (مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ) يعني من آدم (ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا) يقول: ثم جعل من آدم زوجه حواء، وذلك أن الله خلقها من ضِلَع من أضلاعه

Allah menciptakan kalian, wahai manusia, dari satu jiwa, yaitu dari Adam. “Kemudian Allah jadikan darinya”, maksudnya, kemudian Allah jadikan dari Adam, istrinya, yaitu Hawa. Dan itu terjadi, dengan Allah ciptakan Hawa dari salah satu tulang rusuk Adam. (Tafsir at-Thabari, 21/254).

Dalam sebuah hadis juga disebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

"Bersikaplah yang baik kepada wanita, karena wanita diciptakan dari rulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kalian luruskan dengan keras, akan patah. Sebaliknya, jika kalian biarkan akan selalu bengkok. Karena itu, bersikaplah yang baik kepada wanita". (Hr. Bukhari, no. 3331 dan Muslim, no. 1468).

Bagaimana Proses Terjadinya?

Tidak didapatkan keterangan yang detail tentang itu, sehingga kita hanya bisa mengembalikannya kepada dalil yang ada. Lebih dari itu, kita kembalikan kepada ilmu Allah, hanya Allah yang tahu.

Kemudian disana ada keterangan tambahan dari al-Hafidz Ibnu Hajar, yang beliau simpulkan dari beberapa riwayat lain. Dalam penjelasannya terhadap hadis ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

قوله: خلقت من ضلع، قيل: فيه إشارة إلى أن حواء خلقت من ضلع آدم الأيسر. وقيل: من ضلعه القصير. أخرجه ابن إسحاق وزاد اليسرى من قبل أن يدخل الجنة وجعل مكانه لحم، ومعنى خلقت: أي أخرجت كما تخرج النخلة من النواة

Sabda Nabi, “Hawa diciptakan dari tulang rusuk” ada yang mengatakan, ‘Disini terdapat isyarat bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri’. Ada juga yang mengatakan, ‘dari tulang rusuk yang pendek’. Diriwayatkan oleh Ishaq dan ada tambahan tulang rusuk sebelah kiri. Itu terjadi sebelum masuk Surga. Kemudian tulang rusuk itu diganti daging. Dan makna “Hawa diciptakan”, artinya dikeluarkan, sebagaimana tunas kurma yang keluar dari biji". (Fathul Bari, Syarh Sahih Bukhari, 6/368).

Dan penting untuk kita tekankan, kewajiban kita adalah mengimani berita yang ada dalam al-Quran maupun hadis. Meskipun bisa jadi berita itu tidak rinci. Dan ini yang menjadi kepentingan kita. Sementara mengenai proses atau detail yang terjadi, kita serahkan kepada Allah Ta’ala yang Maha Tahu.

Allahu a’lam.


Disunting dari: https://konsultasisyariah.com/29591-benarkah-hawa-diciptakan-dari-adam.html


____