SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Maret 2021

ADAB ISLAM KEPADA PEKERJA

ADAB ISLAM KEPADA PEKERJA

Pekerja dalam istilah lainnya disebut juga, buruh, atau pembantu. Pekerja adalah orang yang memiliki hubungan kerja dengan majikan atau perusahan yang mempekerjakannya. Dan pekerja akan mendapatkan upah sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak. Banyak kasus terjadi kaum pekerja yang mendapatkan perlakuan sewenang-wenang dari majikan atau perusahaan yang mempekerjakannya, sehingga banyak lahir serikat pekerja yang tujuan utamanya untuk memberikan perlindungan dan pembelaan hak terhadap kaum pekerja.

Islam sebagai agama yang membela kaum lemah memberikan tuntunan kepada orang yang memiliki pekerja, supaya di antara kedua pihak tidak ada yang merasa teraniaya,

Dan berikut ini tuntunan Islam yang harus diketahui oleh majikan terhadap pekerjanya :

1. Membayar pekerja dengan upah yang pantas

Termasuk perbuatan keji membayar upah pekerja dengan nilai yang tidak layak. Memberi upah yang tidak layak, sama artinya dengan memanfaatkan orang yang sangat membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidupnya, sehingga ia tidak punya pilihan selain bekerja dengan upah yang tidak pantas. Dan Allah melaknat orang yang membayar upah kepada pekerja dengan upah yang tidak pantas.

Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, bahwa Allah Ta'ala berfirman,

ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ

“Ada tiga orang yang akan menjadi musuh-Ku (musuh Allah) pada hari Kiamat, … (salah satunya) orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai)”. (Hr. Bukhari, 2227, dan Ibn Majah, 2442).

Membayar pekerja dengan upah semena-mena adalah bentuk penganiayaan kepada manusia. Dan Islam melarang berbuat aniaya kepada sesama manusia.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

"Dan tidak ada yang (boleh) berbuat aniaya terhadap yang lain”. (Hr. Muslim, no. 2865).

2. Membayar upah pekerja harus tepat waktu

Islam memerintahkan kepada orang yang memiliki pekerja untuk membayar upah mereka tepat waktu sesuai dengan perjanjian.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pekerja (buruh), sebelum kering keringatnya”. (Hr. Ibn Majah).

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya memberikan upah kepada pekerja secepatnya, sampai-sampai Nabi menyebutnya, "Sebelum kering keringatnya".

Dan termasuk perbuatan dzalim kepada pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaannya dengan capek dan lelah, kemudian majikannya menunda-nunda upahnya, padahal pekerja tersebut sangat membutuhkan upah dari hasil kerjanya.

3. Tidak membebani pekerja dengan pekerjaan diluar batas kemampuannya

Termasuk juga kepada perbuatan dzalim adalah seorang majikan yang memberikan pekerjaan kepada pekerjanya diluar batas kemampuannya, sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada orang yang memiliki pekerja untuk memberikan pekerjaan yang sekiranya ia sanggup kerjakan, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada majikannya untuk membantu mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

“Janganlah kalian membebani mereka (pembantu), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka”. (Hr. Bukhari, no. 30).

Membebani pekerja dengan pekerjaan yang di luar batas kemampuannya merupakan bentuk kedzaliman, dan Islam mengharamkan perbuatan dzalim.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dzalim”. (Qs. Hud: 18).

4. Meringankan pekerjaannya

Allah memberi pahala kepada majikan yang meringankan pekerjaan pekerjanya (pembantunya).

Seharusnya majikan meringankan pekerjaan pembantunya (pekerjanya), karena pekerja (pembantu) bukan mesin yang terbuat dari besi, sehingga bisa dibebani dengan pekerjaan yang berat. Seorang pekerja adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Apabila seorang pekerja bekerja terlalu berat, maka akan menimbulkan dampak buruk bagi keselamatan dan kesehatannya. Dan Allah membalas majikan yang meringankan pekerjaan pembantunya dengan balasan pahala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا خَفَّفْتَ عَنْ خَادِمِكَ مِنْ عَمَلِهِ كَانَ لَكَ أَجْرًا فِي مَوَازِينِكَ

“Keringanan yang kamu berikan kepada pembantumu, maka itu menjadi pahala di timbangan amalmu”. (Hr. Ibn Hibban).

5. Tidak bersikap angkuh dan sombong kepada pekerja

Majikan dan pekerja di sisi Allah adalah sama-sama makhluk-Nya, sehingga tidak sepantasnya seorang majikan angkuh dan menyombongkan diri di hadapan pekerjanya, karena merasa memiliki derajat yang lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung”. (Qs. Al-Isra: 37).

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Qs. Luqman: 18).

Seorang majikan tidak perlu merasa hina makan bersama dengan pekerjanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا اسْتَكْبَرَ مَنْ أَكَلَ مَعَهُ خَادِمُهُ، وَرَكِبَ الْحِمَارَ بِالأَسْوَاقِ، وَاعْتَقَلَ الشَّاةَ فَحَلَبَهَا

“Bukan orang yang sombong, majikan yang makan bersama pembantunya”. (Hr. Bukhari dalam Adabul Mufrad, 568, Baihaqi dalam Syuabul Iman, 7839).

6. Tidak berlaku kasar kepada pekerja

Seorang muslim sepantasnya meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang tidak pernah berlaku kasar kepada pembantunya, 

Aisyah radhiyallahu 'anha menyebutkan,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ خَادِمًا…

“Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul dengan tangannya sedikit pun, tidak kepada wanita, tidak pula kepada pembantu”. (Hr. Muslim, 2328, Abu Daud, 4786).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Abu Mas’ud Al-Anshari yang memukul budak lelakinya, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkannya,

اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ، لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ

“Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, Allah lebih kuasa untuk menghukummu seperti itu, daripada kemampuanmu untuk menghukumnya".

Abu Mas’ud Al-Anshari kaget ketika perbuatannya diketahui oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan ia langsung membebaskan budaknya.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ

“Seandainya engkau tidak melakukannya, niscaya Neraka akan melahapmu”. (Hr. Muslim, 1659, Abu Daud, 5159, dan yang lainnya).

7. Mengasihi dan menyayangi pekerja

Kebanyakan pekerja adalah kaum lemah, sehingga sepantasnya seorang majikan mengasihi dan menyayangi pekerjanya,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Kasihilah orang-orang yang berada di atas bumi, niscaya Dia (Allah) yang berada di atas langit akan mengasihi kamu". (Hr. at-Tirmidzi, no. 1924).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَإِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

"Sesungguhnya Allâh menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". (Hr. Bukhari, no. 1284, dan lainnya).

Itulah tuntunan Islam yang perlu diketahui oleh orang-orang yang memiliki pekerja.

Berikutnya kita simak bagaimana sikap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada para pembantunya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, adalah di antara orang yang pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama hampir 9 tahun, sejak dari usia 10 tahun.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari (sewaktu aku masih kanak-kanak), beliau menyuruhku untuk suatu pekerjaan. Aku bergumam, aku tidak mau berangkat, sementara hatiku meneriakkan untuk berangkat menunaikan perintah Nabi Allah. Aku pun berangkat, sehingga melewati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di pasar. Aku pun ikut bermain bersama mereka. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tengkukku dari belakang. Aku lihat Nabi, dan beliau tertawa. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berkata, “Hai Anas, berangkatlah seperti yang aku perintahkan”. “Ya, saya pergi sekarang ya Rasulullah”. Jawab Anas.

Dari riwayat di atas, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu ingin memberikan pelajaran tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

وَاللهِ! لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا. وَلاَ لِشَيْءٍ تَرَكْتُ: هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

"Demi Allah, aku telah melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tujuh atau sembilan tahun. Dan aku belum pernah sekalipun mendapati Nabi berkomentar terhadap apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu lakukan ini ?”, tidak juga beliau mengkritik, “Mengapa kamu tidak lakukan ini ?”. (Hr. Muslim, 2310, dan Abu Daud, 4773).

Dalam sebagian riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian terhadap kebutuhan pembantunya. Bahkan sampai menyemangati pembantunya untuk menikah. 

Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami menyebutkan, Saya pernah menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menawarkan, “Wahai Rabi’ah, kamu tidak menikah ?”. Aku menjawab, “Tidak ya Rasulullah, saya belum ingin menikah. Saya tidak punya biaya yang cukup untuk menanggung seorang istri, dan saya tidak ingin disibukkan dengan sesuatu yang menghalangiku untuk melayani engkau”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berpaling dariku. Setelah itu beliau bertanya kembali, “Wahai Rabi’ah, kamu tidak menikah ?”. Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama, “Tidak ya Rasulullah, saya belum ingin menikah. Saya tidak punya ….dst”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berpaling dariku. Kemudian aku ralat ucapanku, aku sampaikan, “Ya Rasulullah, engkau lebih tahu tentang hal terbaik untukku di dunia dan akhirat”. Aku bergumam dalam hatiku, “Jika Nabi bertanya lagi, aku akan jawab, Ya”.

Dan ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali untuk yang ketiga kalinya, “Wahai Rabi’ah, kamu tidak menikah ?”. Aku langsung menjawab, “Ya, perintahkan aku sesuai yang engkau inginkan”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mendatangi keluarga fulan, salah seorang dari suku Anshar… (Hr. Ahmad 16627, Hakim 2718, dan at-Thayalisi, 1173).

Tidak hanya bersikap baik dalam urusan dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperhatikan urusan akhirat pembantunya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memiliki seorang pembantu yang masih remaja beragama Yahudi. Suatu ketika si Yahudi ini sakit keras. Nabi pun menjenguknya dan memperhatikannya. Ketika merasa telah mendekati kematian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau ajak anak ini untuk masuk Islam. Si anak kemudian melihat bapaknya, seolah ingin meminta pendapatnya. Bapaknya kemudian berkata, ‘Ta'ati Abul Qosim (nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)’. Anak Yahudi itu pun masuk Islam. Dan setelah itu ruhnya keluar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan rumahnya dengan berkata,

berkata,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

“Segala puji bagi Dzat Yang telah menyelamatkannya dari Neraka”. (Hr. Bukhari, 1290).

Demikianlah indahnya adab Islam dalam bermuamalah dengan para pembantu atau pekerja.

Semoga bermanfa'at.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis : Abu Meong


Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna

Kunjungi juga Channel Youtube Abu Meong di, https://m.youtube.com/channel/UCY84L0V-doictq9w3VxQpaw/videos


____________

Minggu, 07 Maret 2021

ADAB ISLAM DALAM BERKENDARAAN

ADAB ISLAM DALAM BERKENDARAAN

Berikut ini di antara adab Islam dalam berkendaraan supaya selamat dan mendapatkan berkah dari Allah :

1. Ucapkan bismillah ketika kaki mulai menaiki kendaraan

Bagi orang yang hendak bersafar disunnahkan ketika pertama kali meletakkan kaki untuk menaiki kendaraan membaca,

بِسْمِ اللهِ

"Bismillah"

Artinya, "Dengan menyebut nama Allah".

Dalam riwayat at-Tirmidzi, membaca "Bismillah" tiga kali. (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, III/420 no. 3446).

Kalimat thoyyibah (Bismillah) ini disunnahkan untuk selalu dibaca apabila setiap hendak memulai melakukan kegiatan (aktifitas).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ كَلَامٍ أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ - أَوْ قَالَ: أَقْطَعُ -

“Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir pada Allah, maka terputus berkahnya”. (Hr. Ahmad, 2: 359).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya”. (Hr. al-Khatib dalam al-Jami’).

Imam Nawawi Al-Bantani menyatakan bahwa bismillah dibaca pada suatu perkara yang penting atau pada perkara mubah dan tidak termasuk dalam suatu yang haram atau makruh. Namun bismillah tidak untuk suatu perkara yang remeh seperti menyapu kotoran binatang, dan bacaan bismillah bukanlah sebagai bacaan dzikir seperti tahlil. (Kasyifah As-Saja Syarh Safinah An-Najaa, hlm. 26).

2. Berdo'a ketika sudah duduk di kendaraan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdo'a ketika hendak memulai berkendara dengan do'a berikut,

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ. اَلْحَمْدُ لِله، اَلْحَمْدُ لِلََّهِ، اَلْحَمْدُ لِله، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (pada hari kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah !. Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”. (Hr. Abu Dawud, dan Tirmidzi).

3. Berdzikir selama dalam perjalanan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما من راكب يخلو في مسيره بالله وذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر ونحوه إلا كان ردفه شيطان

“Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dzikir maka yang menjadi penumpangnya adalah Malaikat. Sedangkan pengendara yang perjalanannya disertai nyanyian atau sejenisnya, maka yang menjadi penumpangnya adalah syetan”. (Hr. Thabrani dalam al mu’jamul kabiir, no 895. dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam shahih jami, no 5706).

4. Bertasbih ketika melewati jalan menurun

Kalimat tasbih yaitu,

سُبْحَانَ اللَّهِ

"Subhanallah"

Artinya : "Maha suci Allah"

Kalimat 'Subhanallah' disunnahkan dibaca apabila sedang dalam perjalanan (safar) menemukan jalan menurun.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

"Dan ketika kami melewati jalanan yang turun, kami bertasbih". (Hr. Bukhari 2993).

5. Bertakbir ketika melewati jalan menanjak

Kalimat takbir yaitu,

اللَّهُ أَكْبَرُ

"Allahu Akbar"

Artinya : "Allah Maha Besar.

Kalimat, "Allahu Akbar" disunnahkan dibaca di antaranya apabila sedang dalam perjalanan (safar) menemukan jalan menanjak.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا

"Kami (para sahabat) ketika melewati jalanan yang naik, kami bertakbir". (Hr. Bukhari 2993).

6. Mengikuti peraturan lalu lintas

Peraturan lalu lintas dibuat oleh pemerintah dengan tujuan terwujudnya masyarakat yang tertib, beretika dan berbudaya dalam berlalu lintas, sehingga pengendara bisa selamat dan sampai tujuan.

Seorang muslim wajib patuh kepada pemerintah, selama tidak memerintahkan untuk berbuat munkar.

Allah Ta'ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kalian kepada Rosul, dan Ulil amri (pemerintah) kalian”. (Qs. An-Nisaa: 59).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃَﺣَﺐَّ ﻭَﻛَﺮِﻩَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﻼَ ﺳَﻤْﻊَ ﻭَﻻَ ﻃَﺎﻋَﺔَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat”. (Hr. Bukhari 7144 dan Muslim 1839).

7. Tidak mengangkut penumpang atau barang yang melebihi kapasitas

Membebani kendaraan melebihi daya angkut yang telah ditetapkan merupakan bentuk kelalaian terhadap keselamatan berkendara. Kendaraan yang mengangkut orang atau barang yang melebihi kapasitas yang ditentukan, akibat buruknya di antaranya akan membuat kinerja rem tidak maksimal sehingga kendaraan akan sulit dikendalikan. Padahal rem didesain untuk kendaraan dengan tonase (daya angkut beban) yang sudah ditetapkan. Jika muatan berlebih menyebabkan kinerja rem menjadi berat, sehingga kemampuan rem menjadi lemah bahkan hilang (blong). Dan ini yang sering menjadi penyebab kendaraan mengalami kecelakaan.

Membebani kendaraan yang melebihi kapasitas daya angkut, artinya menjerumuskan diri ke dalam perbuatan yang membahayakan keselamatan diri. Dan Allah Ta'ala memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang mencelakakan.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

"Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan". (Qs. Al-Baqoroh: 195).

8. Gunakan kendaraan untuk keperluan yang baik, bukan untuk bermaksiat

Memiliki kendaraan merupakan nikmat dari Allah Ta'ala, maka jangan jadikan kendaraan yang kita miliki menjadi sarana untuk bermaksiat.

Abu Hazim mengatakan,

كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah”. (Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 82 dan ‘Iddatush Shobirin, hal 159).

Bersyukur memiliki kendaraan, jangan sampai nikmat memiliki kendaraan menjadi sebab datangnya laknat Allah.

Al Hasan Al Bashri berkata,

إِنَّ اللهَ لَيُمَتِّعُ بِالنِّعْمَةِ مَا شَاءَ فَإِذَا لَمْ يُشْكَرْ عَلَيْهَا قَلَبَهَا عَذَابًا

“Sesungguhnya Allah memberikan nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak bersyukur, nikmat tersebut malah berubah menjadi siksa”. (’Uddatush Shobirin, hal. 148).

9. Tidak sombong ketika berkendara

Tidak sedikit pengendara motor atau mobil mewah yang dikeluhkan masyarakat karena dinilai arogan dalam berkendara. Sebagian dari kendaraan mewah ada yang memasang aksesoris seperti lampu strobo, sirine dan modif suara klakson, seolah-olah mereka ingin mendapatkan prioritas di jalan raya. Perilaku yang demikian menimbulkan kesan sombong dan pamer kendaraan mewah.

Padahal Islam melarang umatnya memiliki sifat sombong.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung”. (Qs. Al-Isra: 37).

10. Mendahului memberi salam kepada pejalan kaki

Apabila berpapasan dengan pejalan kaki, disunnahkan mendahului memberi ucapan salam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى

“Hendaknya pengendara lebih dahulu mengucapkan salam kepada pejalan kaki". (Muttafaqun ‘alaih).

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Pengendara dianjurkan untuk lebih dahulu mengucapkan salam, agar ia terhindar dari kesombongan karena kendaraan yang ia kendarai. Dengan demikian ia dapat menjaga kerendahan hatinya”. (Fathul Bary, 11/17).

11. Menawarkan tumpangan kepada pejalan kaki bila tujuannya searah dengan kita

Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim, biasa membonceng para sahabatnya ketika Nabi menunggangi kendaraan. Di antaranya ketika Nabi berkendaraan dari padang Arafah menuju Muzdalifah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memboncengkan Usamah bin Zaid. Dan ketika esok harinya Nabi memboncengkan Fadhel bin Abbas hingga tiba di Mina. Dan pada kesempatan yang lain, Nabi mengendarai keledai dan memboncengkan sahabat Mu’ad bin Jabal. 

Syeikh Abdurrahman bin Hasan At Tamimi berkata, "Pada kisah ini terdapat isyarat tentang kerendahan hati beliau. Beliau tidak merasa sungkan untuk mengendarai keledai dan memboncengkan orang lain. Tentu ini menyelisihi kebiasaan orang-orang yang bersifat angkuh lagi sombong". (Fathul Majid, 47).

Demikian adab berkendara dalam Islam, supaya berkendara dengan selamat dan mendapatkan berkah dari Allah Ta'ala, wallahu a'lam.

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί (Abu Meong)

Kunjungi blog pribadi di :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna

https://axingx.blogspot.com/?m=1

Kunjungi juga Channel Youtube Abu Meong di, https://m.youtube.com/channel/UCY84L0V-doictq9w3VxQpaw/videos

Sumber tulisan :

https://muslimah.or.id/5709-nikmatnya-berkendaraan.html

https://rumaysho.com/7390-nikmat-berubah-menjadi-musibah.html

https://arifinbadri.com/361-adab-berkendaraan.html


________

SURGA YANG PERNAH DITEMPATI NABI ADAM, ADALAH SURGA YANG AKAN DITEMPATI ORANG-ORANG BERIMAN NANTI

SURGA YANG PERNAH DITEMPATI NABI ADAM, ADALAH SURGA YANG AKAN DITEMPATI ORANG-ORANG BERIMAN NANTI

Apakah Surga yang akan ditempati orang-orang beriman nanti adalah Surga yang pernah ditempati Nabi Adam dahulu ?

Jawaban :

Ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini, akan tetapi jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat bahwa Surga yang pernah ditempati Nabi Adam dahulu adalah Surga yang ada di langit, yaitu Surga yang kelak akan di huni oleh orang-orang yang beriman nanti.

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini ialah hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam, yang bersabda,

يجمع الله تبارك وتعالى الناس فيقوم المؤمنون حتى تزلف لهم الجنة فيأتون آدم فيقولون يا أبانا استفتح لنا الجنة فيقول وهل أخرجكم من الجنة إلا خطيئة أبيكم آدم

"Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi akan mengumpulkan manusia, kemudian ketika Surga telah didekatkan, maka orang-orang beriman akan bangkit, dan mendatangi Nabi Adam 'alaihis salam, kemudian mereka akan berkata kepadanya, "Wahai bapak kami, mohonlah agar Surga segera dibukakan untuk kami". Maka Adam menjawab, "Tidaklah ada yang mengeluarkan kalian dari Surga, melainkan kesalahan bapakmu Adam ?”. (Hr. Abu Dawud).

Dan juga hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

احتج آدم وموسى عليهما السلام عند ربهما فحج آدم موسى. قال موسى: أنت آدم الذي خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه وأسجد لك ملائكته وأسكنك في جنته ثم أهبطت الناس بخطيئتك إلى الأرض

“Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimas salam pernah berdebat disisi Allah, maka Nabi Adam berhasil mengalahkan Nabi Musa. Nabi Musa berkata, "Wahai Adam, engkaulah orang yang Allah ciptakan langsung dengan Tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu, dan Allah juga telah memberimu kesempatan untuk tinggal di Surga-Nya, kemudian engkau karena dosamu menurunkan seluruh manusia (anak keturunanmu) ke bumi". (Hr. Muslim).

Dari kedua hadits ini dan juga dalil-dalil lainnya, jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat, bahwa Surga yang pernah dihuni Nabi Adam ‘alaihis sallam beserta istrinya Hawa adalah Surga yang ada di langit, bukan Surga dengan pengertian taman yang indah yang ada di bumi.

Walau demikian ada sebagian ulama salaf yang berpendapat bahwa Surga yang dimaksud ialah Surga khusus yang telah Allah siapkan untuk menguji Nabi Adam ‘alaihis sallam bersama istrinya Hawa.

Kemudian ulama yang berpendapat demikian ini terbagi menjadi dua kelompok :

Yang pertama mengatakan, Surga khusus ini berada di langit, dan kelompok kedua mengatakan bahwa letak Surga khusus ini ada di bumi.

Ulama yang mengatakan pendapat kedua ini beralasan, Karena Nabi Adam ‘alaihis sallam dan istrinya Hawa mendapatkan tugas agar tidak memakan satu jenis buah suatu pohon, dan Nabi Adam ‘alaihis sallam tidur, dan juga Iblis dapat masuk ke dalamnya, semua ini menunjukkan bahwa Surga yang dimaksud bukanlah Surga yang akan dihuni oleh orang-orang beriman nanti setelah datangnya hari qiyamat.

Apabila diamati lebih jauh, maka pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama yang berpendapat bahwa Surga yang pernah dihuni Nabi Adam ‘alaihis sallam beserta istrinya Hawa adalah surga yang ada di langit, yang akan dihuni oleh orang-orang yang beriman nanti, bukan Surga dengan pengertian taman yang indah yang ada di bumi, karena didukung oleh pemahaman kedua hadits di atas.

Wallahu a'lam.


Disunting dengan sedikit perubahan redaksi dari: https://konsultasisyariah.com/39-surga-yang-pernah-ditempati-nabi-adam-alaihissalam.html


___