SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Kamis, 05 Juli 2012

WRESTLING / SMACDOWN

DI AWAL TAHUN 1960-an, menurut penuturan seorang bapak sepuh, acara televisi di Amerika Serikat yang paling digemari masyarakatnya kala itu adalah acara wrestling. Pelakunya disebut Wrestler.
Meski wrestling ini basisnya adalah olahraga gulat, namun dalam tampilan on air (di televisi) maupun off air (di atas arena atau ring), mirip olahraga tinju karena menjadikan ring (tinju) sebagai arena utamanya.
Olahraga gulat, sebagaimana sudah diketahui banyak orang, berlangsung di sebuah arena berbentuk  lingkaran di atas lantai berlapis matras (alas lantai untuk olahraga). Dalam olahraga ini tidak ada pukul-memukul atau tendang-menendang.
Berbeda dengan olahraga gulat, dalam wrestling ada pukul-memukul dan tendang-menendang, bahkan injak-menginjak lawannya. Meski terkesan keras dan brutal, namun sesungguhnya wrestling hanyalah hiburan yang dilakoni oleh para wrestler terlatih (profesional). Sehingga, terhindar dari kemungkinan luka serius.
Jadi, wrestling sama sekali berbeda dengan olahraga tinju, thay boxing, atau ultimate fighting. Perbedaan mendasar lainnya, pertarungan yang terkesan brutal pada wrestling ini sesungguhnya hanya pura-pura. Untuk menyuguhkan tontonan yang menarik, kepura-puraan itu sebelum disajikan di depan publik sudah melalui proses pelatihan yang intensif.
Para petarung wrestling ini biasanya tampil dalam sebuah tim yang namanya seram-seram. Di atas pentas, ketika Tim A sedang bertarung melawan Tim B, yang terlihat adalah sebuah pertarungan yang seperti sungguh-sungguh, penuh kekerasan bahkan brutal. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya, dua tim atau dua sosok yang terlihat seperti musuh bebuyutan di arena, kenyataannya bisa dilihat sedang menghabiskan waktu bersama di pemancingan umum.
Di Indonesia wrestling kurang begitu dikenal. Tapi pada awal 1990-an ada nama smackdown yang mirip wrestling, dan digemari penonton televisi kita. Alhamdulillah akhirnya smackdown dilarang, karena berdampak negatif. Yaitu, anak-anak pra remaja mempraktekkan smackdown terhadap sesama kawannya sehingga timbul korban seperti patah tulang dan sebagainya. Bahkan ada yang meninggal dunia.
Mereka meniru smackdown karena sama sekali tidak mengetahui bahwa pertunjukan itu dilakukan oleh dua sosok atau dua tim yang terlatih, untuk mendapatkan sejumlah imbalan. Mereka sudah berlatih bersama secara intensif sebelum menyajikan kepura-puraan yang menghibur itu. Bahkan, rating stasiun televisi yang menayangkan acara itu meningkat cukup signifikan kala itu.
Kepura-puraan yang menghibur juga bisa kita temui pada tradisi perkawinan sejumlah suku di Indonesia. Misalnya, saat rombongan mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita untuk melangsungkan akad nikah, rombongan mempelai pria disambut dengan pantun. Dari pihak rombongan mempelai pria, ada jago pantun yang diandalkan untuk membalas jago pantun dari pihak mempelai wanita. Dalam skenarionya, jago pantun dari pihak mempelai pria harus menang.
Selain pantun ada juga yang melengkapi prosesi pernikahan itu dengan adu jago silat. Usai berpantun, biasanya dua jago silat dari kedua belah pihak bertarung dengan sengit. Namun, sudah diskenariokan sejak awal, bahwa jago silat dari pihak mempelai pria harus menang melawan jago silat dari pihak mempelai wanita. Setelah itu, rombongan mempelai pria dipersilakan masuk, untuk selanjutnya menjalankan rukun akad nikah sebagaimana lazimnya.
Yang sudah sama-sama diketahui, bahwa jago pantun dan jago silat dari kedua belah pihak, sesungguhnya berasal dari wedding organizer yang sama. Mereka berlatih dulu sebelum tampil di hadapan publik. Bagaimana caranya menang, dan bagaimana caranya kalah sudah diatur dan sudah menjadi bagian dari prosedur tetap mereka. Itulah kepura-puraan yang menghibur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar