SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Sabtu, 07 Juli 2012

TAHLILAN BERASAL DARI BUDAYA HINDU

Bismillah..
Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 hari, bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) dan juga Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Disebutkan bahwa kepercayaan yang ada pada sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari dst, /red ) maka rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi).

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : "Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : "Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal" karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : "Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu".

Telah jelas bagi kita pada awalnya ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yasin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Apakah mencampur-campur ajaran seperti ini diperbolehkan??

Iya, campur mencampur ajaran ini tanpa sadar sudah diajarkan dan menjadi keyakinan nenek moyang kita dulu yang ternyata sebagian dari kaum muslimin pun telah mewarisinya dan gigih mempertahankannya.

Lalu apakah kita lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di turunkan Allah kepada RasulNya?

Allah berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ
”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqoroh ayat 170)

Allah berfirman :

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya" (QS Al Baqarah 42)

Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah???

Selanjutnya Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu".(QS. Albaqoroh : 208).

Allah menyuruh kita dalam berislam MENYELURUH, tidak setengah-setengah...

TIDAK SETENGAH HINDU...SETENGAH ISLAM...

http://www.abuayaz.blogspot.com/

4 komentar:

  1. Kasihan deh xi axing dan ida bedande (saya masih meragukan kastanya serta asal-usulnya dari orang HINDU) Adi sucipto sipembohong itu!!!,
    gara-gara sangat BENCINYA sama budaya Tahlilan, Yasinan, Maulid sampai mengarang kebohongan dengan ayat-ayat Alqur'an tetapi memaknainya tidak pas. ya ujung-ujungnya dengan mudahnya melontarkan kata bid'ah, kurafat, kafir bahkan syirik kepada orang yg tdk sepaham.

    BalasHapus
    Balasan
    1. TAHLILAN BERASAL DARI AJARAN HINDU

      Nenek moyang kita dahulu beragama hindu .

      Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti kitabnya agama hindu .hal. 99, 192, 193 yng berbunyi :

      “Termashurlah selamatan kematian yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

      Ketika dahulu islam di sampaikan oleh para ulama kepada nenek moyang kita banyak diantara mereka yng menerima dan masuk Islam .

      Diantara mereka ada yng kemudian mempelajari Islam secara sungguh sungguh, mereka mempelajari ilmu ilmu Islam dan di antara mereka ada juga yng masuk Islam tapi mereka melakukan juga adat istiadat dan kepercaya'an lamanya .

      Sa'at itu para ulama berijtihad bagaimana supaya mereka masuk Islam dan tidak kembali murtad tapi mereka juga harus menghilangkan ajaran ajaran lamanya secara pelan pelan .

      Para ulama membiarkan mereka melakukan ritual ritual lamanya tpi para ulama sa'at itu memasukan nilai nilai islam ke dalam ritual ritual mereka tersebut .

      Seperti dalam kenduri arwah / selamatan kematian, para ulama sa'at itu membiarkan mereka melakukan ritual kenduri arwah tpi para ulama memasukan ajaran ajaran Islam ke dalamnya .

      Para Ulama memasukan baca'an dzikir pembaca'an al qur'an sodaqoh dll ke dalam ritual kenduri arwah tersebut yng kt kenal sekarang dengan nama TAHLILAN .

      Kesimpulannya tahlilan adalah berasal dari ajaran hindu . Tidak ada hadits lemah maupun palsu yng menyebutkan Rosululloh melakukan tahlilan ketika istrinya wafat anaknya wafat atau sahabatnya wafat. di hari kematiannya di tiga harinya di tujuh harinya dll.

      Jadi Tahlilan yng kita kenal selama ini adalah Bid'ah perkara baru atau Muhdats perkara yng di buat buat yng Rosululloh tidak mengajarkannya .

      Hapus
  2. Xi axing si AHLUL bid'ah, justru karena memakai Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti kitabnya agama hindu .hal. 99, 192, 193 anda makin tambah tersesat, bahkan xi axing menjadi BODOH PERMANEN dg menyimpulkan TAHLILAN BERASAL DARI AJARAN HINDU

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toel @ anda itu sungguh2 orang yg tidak beretika dan tidak beragama dgn benar. Kl membantah pake dalil dong. Orang bicara pake dalil, anda bicara pake nafsu. Islam apa anda ini? Islam itu adalah agama paling kokoh diantara ribuan agama yg ada di dunia ini. Agama yg paling kuat landasannya yaitu Alquran dan Sunnah. Tunjukkan dong dalilnya. Kl mendoakan orang lain yg sudah wafat itu sunnahnya banyak. Ayat Alquran juga ada. Tapi ingat... itu perorangan muslim. tapi ini acara tahlilan 7, 40, 100, 1000 hari, mana ayat Alquran dan Sunnahnya ? Kl ada jawab dong.... jangan beragama tanpa ilmu. Jadi lah orang yg Ahli Ibadah. Tau maksudnya Ahli Ibadah? Ibadah dgn ahli, ibadah dgn ilmu dan pengetahuan yg benar. Jangan anda jadi Ahli Bid'ah. Semoga anda diberi hidayah Allah.

      Hapus