SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Kamis, 05 Juli 2012

Pemelintiran Ustadz Bukhori Maulana dan Tuduhan Dustanya

(Wahhabi Menjawab Sepotong Kalimat Tuduhan Ustadz Bukhori Maulana-1)
Inilah Syaikhul Islam yang Ustadz Remehkan
بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Syaikh Abdullah Alu Baher -Ghafarahullah-
Ilustrasi : voaislam.com
Alhmadulillah, Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang telah mencurahkan kasih sayangnya kepada orang-orang yang teguh di atas jalan Rasul-Nya sehingga mereka teguh di atas jalan yang mengantarkan mereka bahagia dunia dan akhirat. Shalawat dan salam senantiasa mengiringi ingatan kita agar lidah kita basah dengannya teruntuk baginda tercinta Rasulullah Muhammad bin Abdillah, keluarganya, sahabat dan orang-orang yang konsisten dengan risalahnya.
Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kuat pula badai yang menerpa. Begitulah kira-kira pepatah yang menggambarkan seorang yang kuat imannya, teguh pendirian tauhid dan jihadnya. Gelombang badai tuduhan dan cercaan akan terus menghantamnya. Namun mereka yang telah diterangi oleh bashirah, tak akan goyah karena hidayah dari Allah ‘Azza wa Jalla telah menghujam di hati. Akhir-akhir ini banyak serangan terhadap dakwah Tauhid yang kembali kepada kemurnian Aqidah dan Sunnah.
Hal ini memang terasa klasik bagi orang yang paham dakwah ini dan juga jalan yang pendahulu mereka lalui (salafush shalih). Akan tetapi ini akan menjadi fitnah bagi mereka yang baru mengenal dakwah dan belum mengerti akar permasalahan tersebut. Akan tetapi fithrah mereka yang bersihlah yang menolaknya.
Pada hari Ahad siang, tepatnya 20 November 2011, diadakan acara untuk menentang dakwah Tauhid dan Sunnah (maaf tepatnya memecah belah ummat Islam) dengan tema “ulama sejagad menentang salafi wahhabi”. Salah satu pembicaranya adalah Ustadz Bukhori Maulana. Dalam penyampaian beliau ada nada yang tidak mengenakkan dan statmen yang terkesan (maaf) mengada-ada dikarenakan (mungkin, Allah Ta’ala a’lam) oleh kebencian yang ditutup-tutupi. Saking bencinya dengan apa yang ia sebut sebagai “wahhabi-salafi” keluarlah kata-kata yang tidak enak didengar.
Ada hal yang perlu diluruskan bahwa apa yang mereka nilai dari salafi tidaklah semata-mata benar dari salaf  (sekedar pengakuan) dan dinisbatkan kepada wahhabi (baca; Ahlussunnah).
Saudaraku… diantara perkataan yang terlontar dari lisan beliau adalah kalimat yang bernada peremehan kepada ulama besar yang diakui oleh ulama yang menyelisihinya dan yang sejalan dengan beliau. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Qaddasallahu ruhah-. Inilah perkataan ustadz terhadap beliau
“kalau kita berbicara salafi wahhabi, kita mesti berbicara makhluk ini (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)”.
Kalau seandainya ulama-ulama kibar mutaakhkhirin sezaman dengan beliau mendengar kata-kata ini, niscaya mereka akan geleng-geleng kepala keheranan karena melihat ke-pede-an Ustadz tersebut seakan-akan ia memiliki perbendaharaan ilmu dan riwayat sanad serta penguasaan dirayah yang mumpuni (maaf, kami tidak mencoba untuk mengabarkan hal yang ghaib. Ini cuma prediksi berdasarkan rekomendasi ulama-ulama yang mengakui keilmuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).
Memang ada beberapa ulama yang menentang beliau yang sezaman dengan beliau, terutama ulama sulthan, dan zaman setelah beliau wafat –sekitar abad 8 H-. Diantara yang sangat mengingkari beliau adalah Imam As-Subki dan Ibnu Hajar Al-Haitami. Adapun Imam As-Subki yang santer gugatan beliau terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah masalah Syaddur rihal (mengadakan perjalanan untuk ibadah ziarah). Dan hal itu telah dibantah oleh murid beliau yaitu Imam Ibnu Abdil Hadi -rahimahullah- dengan kitab yang berjudul Ash-Shorimul Munakki fir Raddi ‘alas Subki. Ada lagi yang lebih ekstrem yaitu Muhammad Al-Bukhori (bukan Imam Bukhori). Sampai orang yang memanggil Ibnu Taimiyyah dengan gelar Syaikhul Islam adalah Kafir. Namun hal tersebut dibantah oleh Al-Hafizh Muhammad bin Abi Bakar bin Nashiruddin dengan kitab yang berjudul “Ar-Raddul Wafir ‘Ala Man Za’ama Man Samma Ibna Taimiyyah Syaikhal Islam Kafir”.
Siapakah Ibnu Taimiyyah?
Nama dan nasab beliau adalah Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam bin Taimiyyah Al-Harrani Ad-Dimasyqi lahir di kota Harran. Beliau lahir pada hari Senin 10 Rabi’ul Awwal 661 H. Beliau hidup di tengah-tengah keluarga yang cinta ilmu. Ayah dan kakek beliau adalah ulama besar Hanabilah. Beliau mendengarkan (sima’) hadits dari Imam Ibnu Abdid Daim, Ibnu Abil Yusri, Ibnu Abdan, Syaikh Syamsyuddin Al-Hanbaly, Syaikh Syamsuddin bin ‘Atha Al-Hanafy, Syaikh Jamaluddin Ash-Shirfi, Majduddin Ibnu ‘Asakir, Syaikh Jamaluddin Al-Baghdadi, An-Najib bin Al-Miqdad, Ibnu Abil Khair, Ibnu ‘Allan .
Murid-murid beliau adalah Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim , Imam Adz-Dzahabi, Imam Ibnu Abdil Hadi, Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahumullah-.
Inilah pembelaan para ulama terhadap Syaikhul Islam
Syaikh kamaluddin Az-Zamlakani menulis sebuah rekomendasi, beliau berkata: ”Adalah para ahli fiqih dari berbagai golongan ketika duduk dalam majlis beliau (Ibnu Taimiyyah) mereka mengambil faedah dari beliau dalam madzhab mereka. Tidak diketahui dari beliau ketika berdialog kemudian memotong dialog (tanpa ada titik temu), dan beliau tidak berbicara dalam salah satu disiplin ilmu syar’I atau selainnya melainkan beliau melebihi ahlinya, serta telah terpenuhi pada diri beliau syarat-syarat ijtihad”.
Dan bait Sya’ir pujian Az-Zamlakani yang monumental atas kelebihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
ماذا يقول الواصفون لــــه و صفاته جلت عن الحصر
هو حجة لله قاهـــــــــــرة هو بيننا أعجوبة الدهــــــر
هو آية في الخلق ظاهرة أنوارها اربت على الفجــر
Apa yang dikatakan oleh orang –orang pemberi shifat kepadanya
Sedangkan shifatnya melampaui batas
Dia adalah hujjah milik Allah yang mencengkram
Dia adalah keajaiban masa diantara kita
Dia merupakan tanda kebesaran Allah yang nyata
Sinarnya menutupi sinar fajar
Al-Hafizh Ibnu Sayydun Naas: ”Beliau orang yang mencapai puncak keilmuan dan menguasai atsar dan sunan. Jika beliau berbicara dalam masalah tafsir maka beliau membawa panjiinya, jika berfatwa dalam masalah fiqih maka beliau mengerti klimaksnya (mengetahui solusinya), dan jika berbicara dalam masalah hadits maka beliau memiliki riwayatnya,… beliau orang paling menonjol di setiap bidang ilmu daripada putra semisalnya, dan mataku belum pernah melihat orang semisal dengan beliau”.
Imam Ibnul Wardi berkata: ”Beliau memiliki pengetahuan yang sempurna dalam masalah rijalul hadits, jarh wat ta’dil dan tingkatannya (thabaqaturrijal)…. Semua hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyyah maka bukan hadits”.
Imam Ibnul Wasithi berkata setelah mengeluarkan sederet pujian: ”Demi Allah, kemudian demi Allah aku tidak pernah melihat di bawah langit ini orang seperti Syaikh kalian Ibnu Taimiyyah ilmunya, amalnya, kondisi, akhlaq, ittiba’, dermawan, menunaikan hak Allah Ta’ala, orang yang paling benar aqidahnya, sehat ilmu dan azamnya…. Hati yang sehat akan bersaksi bahwa beliau adalah pengikut sejati Nabi”.
….Semua hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyyah maka bukan hadits…..
Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Daqiq Al-‘id berkata: ”Ketika aku berdiskusi bersama beliau, aku melihat seseorang yang seluruh ilmu berada di pelupuk matanya. Ia mengambil apa yang ia mau darinya dan membiarkan (tidak mengambil) apa yang ia mau”.
Syaikh Abu Hayyan (ahli tafsir) berkata: ”Kedua mataku belum pernah melihat seperti orang ini”. Padahal Abu Hayyan dan Ibnu Taimiyyah pernah berdebat hebat saat Ibnu Taimiyyah mengemukakan ada 80 kesalahan yang terdapat pada pendapat Sibaweh (ulama Nahwu).
Dan masih banyak lagi rekomendasi dan pujian ulama serta pengakuan mereka terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Qaddasallahu ruhah-.
(silahkan rujuk kitab Jala’ul ‘ainain fi muhakamatil ahmadain halaman 19 -25 karya Imam As-Sayyid Nu’man bin Mahmud Al-Alusi 1252 H Mathba’atul Madani cetakan tahun 1401 H)
Suasana wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-
Pada saat itu tanda-tanda kebesaran Allah tampak. Seorang hamba Allah yang ‘alim, shalih, bertaqwa dan termasuk dalam garda depan melawan bid’ah telah berpulang ke rahmatullah. Alam pun menyaksikan. Saat-saat itu Allah benar-benar memuliakan hamba yang satu ini. Beliau tidak lain adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –Qaddasallahu ruhah-. Kisah wafatnya beliau kami ambilkan dari kitab Al-bidayah wan Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah-.
Berikut adalah nukilan dari kitab tersebut yang dikutip oleh Ibnu Katsir dari riwayat Syaikh Alamuddin Al-Barzali: Halaman 135 – 136 (cetakan 1978 M Darul Fikri : Beirut)
“Pada Senin malam 20 Dzul Qo’idah (728 H) telah wafat Syaikh, Imam, ‘Alim, ‘Allamah, Al-Faqih, Al-Hafizh yang zuhud, taat beribadah, sang Mujahid Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Syaikh Imam kami Allamah Mufti Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Syaikhul Islam Abul Barokat Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qasim Muhammad bin Al-Khidhr bin Muhammad bin Al-Khidhr bin ‘Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi, di Qol’ah Damaskus di ruangan yang mana beliau ditahan di dalamnya (penjara). Dan datanglah orang banyak ke Qol’ah, kemudian mereka diizinkan masuk.
Sementara sejumlah orang duduk di sisi beliau sebelum dimandikan dan mereka membaca Al-Qur’an serta kemudian bertabarruk dengan melihat dan mencium beliau. Kemudian mereka beranjak, kemudian datanglah rombongan perempuan kemudian mereka melakukan seperti hal itu. Kemudian mereka beranjak. Setelah dimandikan beliau dikeluarkan kemudian orang-orang berkumpul di Qol’ah. Sedangkan jalan menuju masjid dan di dalam masjid telah dipenuhi jama’ah. Begitu pula dengan bab Al-Barid, bab As-Sa’at menuju bab al-Labadin dan Al-Ghiwarah.
Jenazah datang pada jam 4 siang kemudian diletakkan di dalam Masjid, sedangkan para aparat telah mengawasinya dari orang-orang karena sesak. Beliau pertama kali disholatkan di Qol’ah dan yang menjadi Imam adalah Syaikh Muhammad Tamam, kemudian beliau disholatkan di Masjid Al-Umawi setelah sholat Zhuhur. Semakin lama semakin berlipat jumlah yang datang…. Kemudian beliau dikuburkan di pekuburan Ash-Shufiyyah disamping saudaranya Syarafuddin Abdullah rahimahumallah… jumlah lelaki yang datang mencapai 200 orang, mereka minum dari sisa air yang dipakai memandikan Syaikhul Islam… dan kopiah beliau dijual seharga 500 dirham…”
Keterangan tersebut kami potong karena terlalu banyak, dan tidak ada yang aneh-aneh bahkan keajaiban kalau kami paparkan secara lengkap. Pembaca bisa merujuk ke halaman yang tertera. Bahkan diriwayat lain dikatakan bahwa di seluruh pelosok timur dan barat  melaksanakan shalat untuk beliau (shalat ghaib) dan diadzani “Ashshalatu ‘ala turjamanil Qur’an” Shalat untuk penterjemah A-Qur’an.
Jadi saudaraku, kita bisa melihat keagungan ilmu dan kepribadian beliau hingga para ulama, baik yang pro maupun kontro, berkumpul untuk mendoakan beliau dan memberikan rekomendasi serta pujian yang jarang bisa didapatkan sekalipun dari kawan sendiri. Mudah-mudahan ini menjadi koreksi bagi kita agar berhati-hati dengan lisan yang khilaf yang akhirnya mencederai hak-hak para ulama. Wallahul musta’an
Jakarta, 28 Dzul Hijjah 1432 H
Voaislam.com, Jum’at, 25 Nov 2011
 ***
Wahhabi Menjawab Sepotong Kalimat Tuduhan Ustadz Bukhori  Maulana (2)
Kamis, 01 Dec 2011
Pemelintiran Ustadz Bukhori atas nama Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Tuduhan Dusta atas nama Wahhabi
بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Syaikh Abdullah Alu Baher -Ghafarahullah-
Alhamadulillah, Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang telah mencurahkan kasih sayangnya kepada orang-orang yang teguh di atas jalan Rasul-Nya sehingga mereka teguh di atas jalan yang mengantarkan mereka bahagia dunia dan akhirat. Shalawat dan salam senantiasa mengiringi ingatan kita agara lidah kita basah dengannya teruntuk baginda tercinta Rasulullah Muhammad bin Abdillah, kelurganya, sahabat dan orang-orang yang konsisten dengan risalahnya.
إِنَّ اَصدقَ الحديث كلام الله و خير الهدي هدي محمَّد صلى الله عليه و سلم و شرَّ الامور محدثاتها و كلَّ محدثَة بدعة و كل بدعة ضلــــــــــــــــــــــــــالة و كل ضلالة في النــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــار.
أما بعد
Saudaraku… telah kami sampaikan risalah sederhana berisi tentang pembelaan kami terhadap ‘Allamah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Qaddasallahu ruhah- atas perkataan Ustadz Bukhori yang bernada meremehkan. Pada risalah kali ini kami akan memaparkan pemelintiran Ustadz Bukhori Maulana terhadap perkataan Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim -rahimahullah-. Kenapa? Karena beliau menukil perkataan Ulama kemudian perkataan itu tidak sesuai dengan maksud yang disampaikan. Di sini kami juga menepis apa yang Ustadz tuduhkan kepada Wahhabi (baca:ahlussunnah) bahwasanya Wahhabi mengatakan kirim pahala itu tidak sampai serta mengurai masalah Ihda’utstsawab lil Mayyit kemudian mengurai perkataan ulama rujukan Wahhabi yang dihakimi. Hanya kepada Allah lah kami memohon pertolongan agar menunjukkan kepada kita yang benar itu benar dan memberikan kita kekuatan untuk mengikutinya, dan yang salah itu salah serta memberikan kita kekuatan untuk menjahuinya.
Saudaraku… adapun kalimat yang disampaikan oleh Ustadz Bukhori yang kami koreksi adalah sebagai berikut:
“Ibnul Qoyyim mengatakan seluruh ulama bersepakat bahwa kirim pahala bacaan Al-Qur’an, shodaqoh dan lain sebagainya sampai ke mayyit kecuali kelompok ahlul bid’ah di kalangan ahli kalam yaitu mu’tazilah. Jadi seluruh ulama dari zaman Nabi Muhammad sampai sa’at ini sepakat kirim pahala itu sampai”
Perkataan ini menurut pengakuan beliau diambil dari Kitab Syaikhul Islam dari Kitab Ar-Ruh. Kami sudah mengecek kitab Ar-Ruh dan kami tidak menemukan keterangan yang persis sama saperti yang beliau sampaikan. Memang ada penjelasan sang Imam mengulas masalah mayyit yang mendapat manfa’at dari orang yang masih hidup, namun kata-kata sepakat dalam masalah kirim bacaan Al-Qur’an ini tidak benar. Karena konseksuensi dari perkataan tersebut juga pada akhirnya memojokkan ulama. Namun sebelum kami mengoreksi kalimat beliau terlebih dahulu kita mengenal kitab Ar-Ruh.
Ada apa dengan kitab Ar-Ruh?
Kitab Ar-Ruh adalah karangan dari Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- dan penisbatan kitab tersebut kepada beliau adalah benar. Namun dengan begitu, beberapa orang yang berintisab terhadap Ilmu (ahlul Ilmi/Thalibul Ilmi) yang mengingkari penisbatan kitab ini terhadap beliau, diantaranya adalah Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, karena banyak hal yang bertentangan dengan prinsip Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Qaddasallahu ruhah- dan juga salaf. Salah satunya adalah bahwa di dalam kitab itu Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah mendukung amaliyyah talqin Mayyit setelah penguburannya. Hal ini tidak menjadi dasar kita untuk menolak kesahihan penisbatan kitab tersebut terhadap beliau karena kalaupun salah memang karena beliau tidak ma’shum dan beliau ma’dzur dalam hal ini bahkan mendapat pahala ijtihad setelah berusaha untuk mendapatkan hasil istimbathul hukm. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti apa yang beliau pegang yang sesuai dengan KEBENARAN. Dan dari sini kami katakan kepada Al-Ustadzul Karim Bukhori Maulana bahwa KAMI TIDAK MENYEMBAH IBNU QOYYIM AL-JAUZIYYAH karena tidak mengikuti dan taqlid terhadap kesalahan beliau yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah serta menganggap semua qoul beliau MUTHLAQ BENAR SEMUA.
Ada beberapa bukti yang dikemukakan oleh Dr. Bassam Ali Salamah Al-‘Amush dalam studi dan tahqiq beliau terhadap kitab Ar-Ruh. Ada beberapa poin yang disampaikan beliau mengenai Kitab ini, berikut kami paparkan keterangan beliau:
  1. Bahwasanya kitab tersebut milik Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- dan ini tidak diragukan.
  2. Bahwasanya kitab ini dikarang oleh beliau setelah berkoneksi (berjumpa) dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-. Hal ini berdasarkan 2 kesimpulan
a. Penguatan bukti nisbat kitab ini kepada beliau -rahimahullah- , dan itu tampak pada berbagai sisi:
1) Bahwasanya sekelompok dari ahli biografi (seperti Ibnu Hajar, Al-Baghdadi, Ibnu ‘Imad, Asy-Syaukani, As-Suyuthi dan Nu’man Al-‘Alusi) menyebutkan kitab ini diantara karangannya.
2) Bahwasanya Ibnu Qoyyim -rahimahullah- juga menunjukkan sendiri di kitabnya At-Tibyan pada bab ke-6 dalam memaparkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallahu ‘anhu bersabda: ”saat ruh mu’min…) kemudian beliau berkata: ”Dan pembahasan tentang hadis ini telah aku paparkan panjang lebar dikitab Ar-Ruh).
3) kitab ini telah direkomendasikan oleh Allamah Ibrahim bin ‘Umar Al-Biqo’I bahwasanya kitab itu karangan Ibnu Qoyyim dengan dalih ringkasan kitab itu yang diberi nama “Sirr Ar-Ruh” sekitar separuh dari kitab Ar-Ruh.
4) Al-‘Allamah Nu’man Al-Alusi menukil dalam kitab Al-Ayat Al-Bayyinat hal 54 beliau berkata:”dan hal ini telah diterangkan oleh Allamah Ibnu Qoyyim dalam kitab Ar-Ruh).
5) bahwasanya dibeberapa tempat dalam kitab tersebut (Ar-Ruh) beliau menyebutkan gurunya Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- dan mengambil pendapatnya.
(Ar-Ruh fil Kalam ‘ala arwahil amwat wal ahya lil Imam Ibni Qoyyim Al-Jauziyyah dirosah wa tahqiq Dr. Bassam ‘Ali Salamah Al’Amush, Dar Ibnu Taimiyyah:Riyadh Juz 1 101-102)
Demikian bukti bahwasanya kitab Ar-Ruh adalah karangan Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah-.
Pemelintiran Ustadz Bukhori atas nama Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Tuduhan Dusta atas nama Wahhabi
….Dan madzhab sebagian Ahlul Bid’ah dari Ahlul kalam bahwasanya TIDAK SAMPAI SAMA SEKALI KEPADA MAYYIT ,TIDAK DO’A TIDAK PULA YANG LAINNYA .“…….
Setelah kami melakukan pengecekan terhadap rujukan Ustadz Bukhori Maulana  bahwasanya Imam Ibnu Qoyyim mengatakan bahwasanya orang yang menolak pahala bacaan Al-Qur’an sampai adalah ahlul bid’ah dari kalangan ahlul kalam ternyata tidak sesuai maksudnya (yaitu menghakimi Wahhabi). Kalau kita cermati, kata-kata ini secara tidak langsung beliau menghukumi bahwasanya Imam Syafi’I dan sebagian syafi’iyyah -termasuk Imam Al-‘Izz bin Abdissalam- serta Imam Malik adalah Ahlul Bid’ah. Berikut kami nukilkan perkataan Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah- di kitab Ar-Ruh dalam masalah mengirim/menghadiahkan pahala amalan (puasa, haji, shodaqoh, bacaan Al-Qur’an, doa, Istighfar) dari orang hidup kepada orang mati sekaligus menerangkan masalah ini dan pokok perbedaannya serta tuduhan ustadz bahwasanya wahhabi mengatakan pahala orang hidup tidak sampai kepada orang mati (secara muthlak) kecuali do’a anaknya.
هل تنتفع أرواح الموتى بشيء من سعي الاحياء ام لا؟
فالجواب أنها تنتفع من سعي الأحياء بأمرين : مجمع عليهما أهل السنة من الفقهاء و أهل الحديث و التفسير. (احدهما) ما تسبب إليه الميت في حياته. (و الثاني) دعاء المسلمين له و استغفارهم له و الصدقة و الحج على نزاع ما الذي يصل من ثوابه هل ثواب الإنفاق أو ثواب العمل؟ فعند الجمهور يصل ثواب العمل نفسه و عند بعض الحنفية إنما يصل ثواب الإنفاق. و اختلفوا في العبادة البدنية كالصوم و الصلاة و قراءة القرآن و الذكر فمذهب الإمام أحمد و جمهور السلف وصولها و هو قول بعض أصحاب أبي حنيفة نص على هذا الإمام أحمد في رواية محمد بن يحيى الكحال قال قيل لابي عبد الله الرجل يعمل الشيء من الخير من صلاة أو صدقة أو غير ذلك فيجعل نصفه لأبيه أو لأمه ؟ قال أرجو أو قال الميت يصل إليه كل شيء من صدقة او غيرها و قال أيضا آية الكرسي ثلاث مرات و قل هو الله أحد و قل اللهم إن فضله لأهل المقابر. و المشهور من مذهب الشافعي و مالك أن ذلك لا يصل.
و ذهب بعض أهل البدع من أهل الكلام أنه لا يصل إلى الميت شيء البتة لا دعاء و غيره.
“ Apakah Arwah orang mati mendapatkan manfa’at dari usaha orang yang hidup, atau tidak? (jawab) bahwasanya mereka (orang mati) mendapatkan manfaat dari usaha (amal) orang yang masih hidup karena dua perkara: yang disepakati oleh Ahlussunnah dari kalangan Ahli Fiqih, Ahlul Hadits dan Ahli TAfsir (pertama) apa yang menjadi sebab sampainya (amal) kepada mayyit di kehidupannya (kedua) do’amuslimin untuknya (mayyit), istighfar mereka, shadaqoh, haji, dengan perbedaanya apa yang sampai dari pahalanya? Apakah pahala infaq atau pahala amalan? Maka menurut jumhur yang sampai adalah pahala amalan itu sendiri dan menurut sebagian Hanafiyah yang sampai pahala Infaq. Dan mereka (para halul Ilmi) berselisih dalam masalah Ibadah Badaniyah : seperti puasa, shalat, bacaan Al-Qur’an dan dzikir maka madzhab Imam Ahmad dan Jumhur salaf bahwasanya pahalanya sampai dan itu pendapat sebagian sahabat Imam Abu Hanifah. Imam Ahmad memasukkan pendapat ini dalam riwayat Muhammad bin Yahya Al-Kahal beliau berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanya tentang seseorang beramal dengan sesuatu kebaikan dari shalat, shadaqoh dan lainnya kemudian aku menjadikan separuhnya (pahala) untuk ayah atau ibuku? Beliau menjawab aku berharap (sampai) atau beliau berkata segala sesuatu (pahala) sampai kepada mayyit dari shadaqoh atau lainnya dan beliau juga berkata aku membaca ayat Al-Kursi tiga kali dan qul huwallahu ahad dan berkata (Allahumma inna fadhlahu li ahlil maqobir) ya Allah sesungguhnya keutamaannya untuk penghuni kubur (mayyit). Dan yang masyhur dari Imam Syafi’I dan Malik bahwasanya itu tidak sampai (bacaan Al-Qur’an). Dan madzhab sebagian Ahlul Bid’ah dari Ahlul kalam bahwasanya TIDAK SAMPAI SAMA SEKALI KEPADA MAYYIT , TIDAK DO’A TIDAK PULA YANG LAINNYA .
( Kitab Ar-Ruh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah halaman 117 Daarul Baz:Mekkah, penerbit Daarul Kutub Al-Arabiyyah:Beirut cetakan 1979 M/1399 H. HURUF TEBAL dan BERGARIS dari kami bukan dari cetakan penerbit UNTUK MEMPERJELAS)
Setelah kita membaca dengan seksama nukilan di atas maka jelaslah bahwa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyyim sebagai Ahlul Bid’ah adalah mereka yang menolak sama sekali sampainya pahala dari amalan kebaikan baik itu do’a maupun itu istighfar apalagi puasa, shadaqoh, haji dan semisalnya dari ibadah badaniyyah. Sedangkan yang menjadi permasalahan kita adalah bacaan Al-Qur’an. Adapun pahala puasa, shadaqoh dan haji, kami akan beberapa dalilnya dari hadits. Berikut hadits muttafqun ‘alaihi dengan lafazhnya dari riwayat Imam Bukhori -taghammadahullah birahmatih- dalam shahih Al-Bukhori:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى مَرْيَمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِى هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – . أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . (حديث رقم 1308
“Telah Mengabarkan kepada kami Sa’id bin Abi Maryam mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata mewartakan kepada kami Hisyam dari ayahnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ibuku mendadak meninggal dan aku berpikir kalau seandainya beliau sempat berkata beliau bersedekah apakah aku bersedekah untuknya beliau mendapatkan pahala, Nabi menjawab : Ya” (hadits riwayat Bukhori no. 1308)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى بْنِ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا أَبِى عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى جَعْفَرٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ جَعْفَرٍ حَدَّثَهُ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ » . (حديث رقم 1830)
“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Khalid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Musa bin A’yan mengabarkan kepada kami ‘Amru bin Al-Harits dari Ubaidillah bin Abi Ja’far bahwasanya Muhammad bin Abi Ja’far menceritakan kepadanya Urwah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barangsiapa yang meninggal dan mempunyai beban (hutang) puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuknya” (hadits no. 1830)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ – قَالَ – فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى » . ( حديث رقم 1831)
“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru telah mengabarkan kepada kami Zaidah dari Al-A’masy dari Muslim Al-Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata seorang lelaki dating kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata wahai Rasulallah sesungguhnya ibuku meninggal dan mempunyai hutang puasa sebulan apakah aku mengqadha’nya? Beliau menjawab: Ya hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan ” (hadits no. 1831)
Kemudian kami nukilkan hadits riwayat Imam Bukhori di Kitab Subulussalam syarah bulughul maram karya Imam Ash-Shan’ani.
و عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّى نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ ، فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ . حُجِّى عَنْهَا ، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ ، فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ » . رواه البخاري
“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya perempuan dari Juhainah dating kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: sesungguhnya ibuku bernadzar untuk berhaji dan belum berhaji samapai beliau meninggal, apakah saya berhaji untuknya (menggantikannya)? Beliau berkata: Ya, berhajilah untuknya, bagaimana menurutmu kalau ibumu punya hutang, apakah kamu membayarkanya? Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.
(Subulussalam Imam Ash-Shan’ani tahqiq dan ta’liq Dr. Muhammad Muhammad Isma’il Al-‘Awadhi Juz 2 halaman 680 penerbit Daarul bayan al-‘arabi:Kairo)
Kemudian komentar Syaikhul Islam ketika ditanya tentang ayat و أن ليس للإنسان إلا ما سعى dan hadits إذا مات ابن آدم انقطع عمله…. apakah menurut ayat itu orang mati tidak sampai amalan kebaikan kepadany? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Para Imam sepakat bahwasanya shadaqoh sampai kepada mayyit, demikian pula dengan Ibadah maliyah, seperti: memerdekakan budak. Tapi mereka berselisih dalam masalah Ibadah badaniyyah: seperti shalat, puasa, bacaan (Al-Qur’an), dan dengan itu dalam Shahihain (shahih Bukhori dan Shahih Muslim)…..” (Majmu Fatawa Jilid 24 hal 309)
Setelah beliau memaparkan dalil-dalil dari hadits Shahih, beliau melanjutkan komentarnya: “Dan di dalam hadits-hadits Shahih tersebut: bahwasanya beliau (Nabi) memerintahkan untuk haji fardhu untuk mayyit dan haji nadzar. Sebagaimana beliau memerintahkan untuk berpuasa. Karena sesungguhnya perintah itu terkadang dilakukan oleh anak dan terkadang dilakukan oleh saudara. Dan Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan hutang, yang menjadi beban mayyit. Sedangkan hutang dibenarkan membayarnya dari siapa saja, maka hal itu menunjukkan bolehnya dilakukan oleh siapa saja, tidak khusus buat anak, sebagaimana hadits yang sharih (jelas) bagi saudara yang membayarnya.
Maka demikian telah ditetapkan oleh Kitabullah, Sunnah dan Ijma’ diketahui secara Mufashshal lagi Mubayyan (yakni bukan secara ijmal). Dan juga diketahui bahwa yang demikian tidak menafikan firman Allah: (و أن ليس للإنسان إلا ما سعى) (إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث) bahkan yang benar, yang itu juga benar. Adapun hadits: (إن قطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتفع به, أو صالح يدعو له) disini beliau menyebutkan anak, dan doanya untuk (orang tua) adalah kekhususan, karena anak adalah usahanya juga, sebagaimana firman Allah: (ما أغني عنه ماله و ما كسب) mereka berkata: itu (kasab) adalah anaknya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :sesungguhnya apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah adalah usahanya(maksudnya apa yang diusahakan anaknya adalah usahanya juga). Ketika dia berusaha dalam wujud anak itu maka amalan anak itu termasuk dari usahanya, berbeda dengan saudara, paman, ayah dan semisalnya.
Maka sesungguhnya orang mendapatkan manfa’at juga dari do’a mereka, bahkan do’a dari selain keluarga, akan tetapi itu bukan termasuk dari amalan (bukan hitungan amalannya). Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (إنقطع عمله إلا من ثلاث) beliau tidak mengatakan: sesungguhnya dia (orang mati) tidak mendapatkan dengan amalan selain dari dia. Jika anaknya mendo’akannya, maka hal itu ini adalah amalannya yang tidak terputus, dan jika ada orang yang mendoakannya maka itu bukan termasuk amalannya, namun ia mendapatkan manfa’at dari amal itu”. (Majmu Fatawa Jilid 24 halaman 311-312 Daar ‘alamil kutub:Riyadh, cetakan 1991 M/1413 H)
Maka jelaslah kalau kita perhatikan, yang jadi permasalahannya adalah pahala bacaan Al-Qur’an yang diperuntukkan untuk mayyit. Bukan yang disebutkan oleh Ustadz yang memelintirkan perkataan Ibnu Qoyyim dan juga berdusta atas nama Wahhabi (baca:Ahlussunnah). Itulah Imam (Ibnu Taimiyyah), salah satu yang dijadikan rujukan oleh Wahhabi menjelaskan Ijma’ bahwa pahala do’a dan istighfar serta shalat jenazah memberikan manfa’at kepada mayyit dan sampai kepada mayyit, bahkan orang yang mengingkari dan menolak hal ini (juhud) adalah kafir karena menolak sunnah mutawatir. (Majmu Fatawa jilid 24 halaman 207)
Untuk lebih lanjut lihat fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz -rahimahullah- di kumpulan fatwa dan makalah beliau yang berjudul majmu’ fatawa wa maqolat mutanawwi’ah yang dikumpulkan oleh Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ar Juz 4 halaman 348-349, penerbit Daar Ulin Nuha:Riyadh, cetakan tahun 1993 M/1413 H.
…..kami tidak menyembah Imam Ahmad dan Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah serta siapa pun….
Imam Ahmad dan Jumhur mengatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an sampai kepada mayyit. Ini bukan jadi ukuran benar. Yang jadi ukuran adalah dalil. Maka kami katakan di manakah dalil yang sharih yang mengatakan bacaan Al-Qur’an sampai kepada mayyit?? Imam Ahmad dan juga jumhur memakai qiyas dalam hal ini. Mereka mengqiyaskan hadits-hadits puasa yang sampai kepada mayyit dengan kirim pahala bacaan Al-Qura’an. Imam Nawawi juga demikian yang dinukil oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya SyarhuSh Shudur.
Kami di sini menolak Qiyas, sama dengan Imam Syafi’I dan Imam Malik. Karena hal ini menyangkut Ibadah. Sedangkan hukum asal Ibadah adalah Tauqif (tidak beramal) hingga datang dalil menjelaskan masyru’iyyah amalan tersebut. Kami mengikuti apa yang dipegang Imam Ahmad berupa kebenaran bukan sosok Imam Ahmad dalam urusan Din (Ibadah). Karena kita dituntut untuk kembali kepada AlQur’an dan As-Sunnah ketika berselisih, bukan kepada pendapat fulan dan fulan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah- menukil perkataan Imam Ahmad di kitab At-Tauhid Alladzi huwa haqqullahi ‘alal abid bab man atho’al ulama wal umaro’ fi tahrim ma ahallallah aw tahlil ma harramallah faqod ittakhodzahum arbaban min dunillah :
“Imam Ahmad bin Hanbal berkata: aku heran dengan kaum yang mengetahui isnad dan kesahihannya kemudian mereka bermadzhab dengan pendapat Sufyan, sedangkan Allah Ta’ala berfirman: maka hendaklah takut orang-orang yang menyelisihi perintah kami, mereka akan ditimpa fitnah atau adzab yang pedih (An-Nur:63) apakah kamu tau apa itu fitnah yang dimaksud? Fitnah yang dimaksud adalah syirik”
Maka kami katakan pula kepada Ustadz Bukhori Maulana, kami tidak menyembah Imam Ahmad dan Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah serta siapa pun karena kami mengembalikan urusan ini kepada dua pusaka peninggalan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini bukan menunjukkan bahwa kami tidak menghormati Imam Ahmad, bahkan ini adalah penghormatan kita kepada Imam Ahmad karena beliau tidak mau kalau kesalahan beliau yang menyelisihi sunnah diikuti oleh ummat ini yang nantinya akan menjadi tuntutan atas beliau di hari kiamat. Kalaupun beliau salah, beliau ma’dzur atau bahkan mendapatkan pahala satu karena usahanya dalam ijtihad. Namun itu sebatas hak beliau dan kekhususan seorang mujtahid. Adapun kita semua dituntut untuk mengikuti Al-Haq. Sedangkan Al-Haq menurut kami di sini berpihak kepada Imam Syafi’i. maka wajiblah bagi kita untuk rujuk kepada Al-Haq. Wallahu Ta’ala a’lam bishshowab
Jakarta, 5 Muharram 1433 H
Voaislam.com
(nahimunkar.com)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... 4 01share10
 
Baca Juga:
  1. Mengenang Dua Ustadz Dewan Dakwah
  2. Kementerian Agama Larang Ustadz Banyak Tertawa dalam Ceramah
  3. Mengenang Ustadz Abdullah Wasi’an Pembantah Para Penginjil
  4. Polisi Menyakiti Hati ummat Islam, Sudah Menembak Mati Guru Ngaji, Masih Pula Melempar Tuduhan
  5. Kemusyrikan Makam Mbah Priok dan Tragedi Penyekapan Ustadz Nur Yusuf
  6. Bupatinya Ustadz, tapi Menjelang Ramadhan Mau Pentaskan Dangdut Umbar Aurat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar