SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Jumat, 06 Juli 2012

NYADRAN, DALAM TIMBANGAN SYAR'I

Tiap menjelang Bulan Ramadhan, banyak yang berduyun-duyun pergi ke kuburan, baik ke kuburan anggota keluarga mereka sampai kuburan yang diKERAMATKAN. Fenomena ini dikenal dengan istilah NYADRAN.  Nyadran sudah begitu mengakar dalam budaya khususnya di Jawa.
Nah untuk anda yang suka ziarah kubur, khususnya lagi bagi anda yang suka nyadran, nih ada beberapa hal yang musti diperhatikan agar zirah kubur kita bernilai ibadah, bukan malah sebaliknya, berubah menjadi acara yang berbau syirik.
Ziarah Kubur Pada Awal Sejarah Islam
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dulu aku melarang kalian semua berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah.” (HR. Muslim), dalam riwayat At Tirmidzi, “Karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada akhirat.” Ziarah kubur dilarang pada masa awal perkembangan Islam karena masalah ini memang sangat rawan akan bahaya kesyirikan dan kondisi keimanan para shahabat masih dalam tahap pembinaan. Jadi sebagai tindakan preventif sangatlah wajar jika beliau melarang kaum muslimin untuk melakukan ziarah kubur.
Bahkan ketika para shahabat telah menjadi orang-orang mukmin pilihan beliau masih tetap saja memperingatkan mereka dari bahaya kubur, sebagaimana tercermin dalam sabda beliau menjelang wafatnya, “Alloh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhori Muslim)
Peringatan tersebut tentunya juga ditujukan kepada kita semua selaku umat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang sudah berada jauh dari generasi shahabat, apalagi jika aqidah kita masih sangat pas-pasan bahkan cenderung masih lemah. Jangan sampai izin yang diberikan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam justru menjadi bumerang yang berbalik membinasakan kita. Bukannya pahala ziarah yang didapat, namun malah terjurumus dalam jurang dosa bahkan dosa yang tak terampunkan yakni dosa syirik.
Kalau kita perhatikan, ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam saat itu memang terjadi di zaman ini, di mana masih banyak kita dapati kaum muslimin yang salah dalam menerapkan aturan ziarah kubur. Mereka melakukan ziarah sekedar mengikuti apa yang menjadi kemauan sendiri atau sesuatu yang sudah menjadi tradisi tanpa memperhatikan nilai-nilai dan rambu-rambu syari’at.
Beberapa Kekeliruan Seputar Ziarah Kubur
  1. Mengkhususkan waktu-waktu tertentu dalam melakukan ziarah kubur seperti pada bulan sya’ban (jawa: ruwah) ataupun pada hari raya I’dul Fithri. Atau dengan kata lain menjadikan kuburan sebagai ied (perayaan) dan tempat berkumpul untuk menyelenggarakan acara ibadah di sana. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied (perayaan).” (HR. Abu Daud. Nyadran juga merupakan ritual yang mengkhususkan waktu tertentu tanpa ada dalilnya, jadi ini termasuk BID’AH. apalagi didalamnya sarat dengan ritual bid’ah dan sering juga ditambahi keyakina syirik. NAUDZUBILLAH.
  2. Berdoa kepada penghuninya terutama sering terjadi di kuburan orang shalih. Ini termasuk syirik besar, karena berdoa seharusnya hanya ditujukan kepada Alloh saja. Demikian pula menyembelih di sisi kuburan dan ditujukan kepada si mayit.
  3. Sujud, membungkuk ke arah kuburan, kemudian mencium dan mengusapnya.
  4. Shalat di atas kuburan. Ini tidak diperbolehkan kecuali shalat jenazah. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian sholat di atas (menghadap) kubur.” (HR. Muslim)
  5. Menaburkan bunga-bunga dan pelepah pepohonan di atas pusara kubur. Adapun apa yang dilakukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika meletakkan pelepah kurma di atas kubur adalah kekhususan untuk beliau dan berkaitan denga perkara ghaib, karena Alloh memperlihatkan keadaan penghuni kubur yang sedang disiksa. Demikian juga dengan membakar dupa, kayu cendana ataupun kemenyan.
  6. Mempunyai persangkaan bahwa berdo’a di kubur itu lebih terkabulkan sehingga harus memilih tempat tersebut.
  7. Memakai sandal ketika memasuki pekuburan.
  8. Duduk di atas kubur.
Maka selayaknya setiap muslim berpegang dengan ajaran agamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Nabinya serta menjauhi segala bentuk bid’ah dan khurafat yang tidak pernah diajarkan dalam Islam. Dengan itulah kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Karena seluruh kebaikan itu ada dalam ketaatan kepada Alloh dan RosulNya sedangkan keburukan selalu ada dalam kemaksiatan dan kedurhakaan.
AWAS ZIARAH KUBUR BISA BERUBAH JADI SYIRIK !!
Imam Asy Syafi’i sendiri pernah menyatakan bahwa beliau tidak suka seseorang dikultuskan sehingga kuburnya pun ikut diagungkan. Beliau berkata,
وأكره ان يعظم مخلوق حتي يجعل قبره مسجدا مخافة الفتنة عليه وعلي من بعده من الناس
“Dan aku membenci seorang makhluk dikultuskan sehingga kuburnya dijadikan sebagai tempat peribadatan (masjid) karena aku khawatir fitnah menimpa dirinya dan orang-orang yang hidup setelahnya.” (Al Majmu’ 5/314)
Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau:
“Mereka itu, apabila ada orang yang shaleh –atau seorang hamba yang shaleh– meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah sejelek-jeleknya makhluk di hadapan Allah.”
Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka.
AWAS, LARANGAN MASJID YANG DIBANGUN DI ATAS KUBURAN DAN SHOLAT DI DALAMNYA !!
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan panas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda:
“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.
Muslim meriwayatkan dari Jundab bin ‘Abdullah, katanya: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lima hari sebelum wafatnya bersabda:
“Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil; seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu.”
Rasulullah menjelang akhir hayatnya –sebagaimana dalam hadits Jundab– telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya –sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah– beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah; dan inilah maksud dari kata-kata ‘Aisyah: “… dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah”, karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
“Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.” (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar