SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Kamis, 05 Juli 2012

MENGEJAR WAHABI XXX

[Definisi Wahabi?]
“Di kampung ane parah. Ada penceramah [baca: kyai] kondang diundang ke kampung buat ceramah.
Ceramahnya emosional. Sampai di akhir ia berdoa: ‘ALLAAHUMMAL’AN WAHHABIYYIIN’ [Ya Allah, laknatlah orang2 Wahabi]. Masalahnya, ia adalah kyai terkenal, tapi kok melaknat begitu!?”
Di atas adalah seonggok cerita dari seorang teman sekelas di kampus, yang ia bukan seorang Wahaby [juga saya dan Anda], tentu saja muslim [juga saya dan Anda].
Pertanyaan ini selalu ada:
–> Apakah Wahaby itu?
–> Siapakah Wahaby itu?
Ada beberapa kisi-kisi:
Hasan Al-Jaizy ‎1. “Wahabi adalah orang yang jenggoten”
Dalil: Ada ustadz pengajian dan majelis ta’lim menjelek-jelekkan lelaki yang berjenggot ; karena itu adalah ciri khas orang2 Wahaby.
Tanggapan: Rusak sekali. Bahwa Nabi, para sahabat, tabiin sampai beberapa kyai NU di masa lampau itu masyhur jenggoten. Ngakak berguling-guling lah kita kalau mereka semua disebut ‘Wahabi’.
15 Juni pukul 9:03
Hasan Al-Jaizy ‎2. “Wahabi adalah orang yang cingkrangen”
Dalil: Masyhuur
Tanggapan: Tetap rusak. Karena ikhwan2 Jama’ah Tabligh juga memenuhi persyaratan ke-Wahabi-an: jenggoten dan cingkrangen. Namun mereka tidak tahu apa itu Wahabisme. Yang di fikirannya sebatas khuruj untuk dakwah, bagaimana caranya tinggal di masjid orang, dan…apa lagi?
Plus, beberapa tokoh Dragon Ball tidak pernah tahu Wahabisme. Ninja Hatori, dalam perjalanan mendaki gunung lewati lembah tak pernah disangka sebagai seorang Wahaby. Apalagi Wiro Sableng 212. Alih-alih disebut Wahabi, wong ngaji aja belum tentu bisa kok. Tapi, mereka semua cingkrangen!
15 Juni pukul 9:04
Hasan Al-Jaizy ‎3. “Wahabi adalah yang jenggoten, cingkrangen, suka membid’ahkan dan mengkafirkan kaum muslimiin”
Tanggapan: Mau berapapun persyaratan untuk masuk ke definisi Wahabi, tetap saja rusak. Wong otak orang2 anti-Wahabi saja sebenarnya sudah mulai rusak; cuma ga sadar saja. Nah, karena rusaknya itu, jadi lebay. Lebay dalam beribadah dan lebay dalam memahami perkataan orang.
Jadi, ketika ada orang yang mengatakan Maulid itu bid’ah [misalnya], langsung disebut ‘Wahabi’? Lho, sebagian teman2 Ikhwani juga mengatakan ‘Merayakan hari Ulang Tahun Nabi itu bid’ah’ [meskipun bagi mereka: merayakan hari ulang tahun partai itu tidak bid'ah =DOR!]. Apakah mereka Wahabi? Tentu saja tidak!
Dan mengkafirkan ini seperti apa maksudnya ya? Kalau mengatakan: ‘Orang2 Syi’ah [Imamiyyah] itu kafir; karena mereka menuhankan Ali dan para imam, mencela sahabat dan menuduh Al-Qur’an telah dirubah’, ini adalah perkataan orang2 muslim keseluruhan. Oh iya, saya lupa kalau dedengkotnya sampeyan itu 11-12 dengan Syi’ah.
15 Juni pukul 9:04
Hasan Al-Jaizy
‎4. “Wahabi adalah yang berseberangan dengan Aswaja”
Tanggapan: Nah, ini dia yang kudu lebih digali lagi. Aswaja di sini Ahlus Sunnah versi siapa?
Jangan sampai ada monyet mengaku-ngaku sebagai nenek moyang manusia demi mengangkat harkat-martabat monyet.
Masalahnya, sekarang ada kelompok orang-orang yang merasa PALING BENAR, PALING BERILMU dan PALING BERKUASA UNTUK BERIBADAH mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah, padahal mereka ini Ahlul Bid’ah wal Jama’ah [Abwaja].
=> Mereka ini merasa paling benar sendiri; karena ga mau diprotes, dikritik padahal kritikannya disertai ayat Al-Qur’an dan Hadits.
=> Mereka juga merasa paling berilmu. Ada juga yang mengklaim berilmu karena mendapat sanad langsung; atau mendapat mimpi dari Rasul dsb. Benar, mereka adalah orang berilmu; karena mengilmui bagaimana caranya menipu.
=> Mereka juga paling berkuasa untuk beribadah. Lihat saja majelis dzikir dan ta’lim nya. Sudah mirip konser dzikir; ilmunya ga dapet. Kelihatannya berkuasa sekali di malam-malam berisik, gaduh, kampungan dan songong.
Apakah Aswaja yang dimaksud adalah yang tersifati seperti di atas ini?
Jika ‘iya’, maka banyak sekali orang2 Wahaby di dunia ini. Karena saya, keluarga saya, teman2 saya dan puluhan ribu orang berakal lainnya, mual melihat kelompok di atas. Dan kita semua berseberangan dengan mereka.
15 Juni pukul 9:04
Hasan Al-Jaizy
Beberapa kalimat:
STEP 1 => “Wahabi adalah orang2 yang merasa paling benar!”
STEP 2 => “ASW menyalahkan semua Wahabi!”
STEP 3 => “Orang yang menyalahkan orang yang merasa paling benar adalah orang merasa lebih benar daripada orang yang merasa paling benar”
STEP 4 => “ASW merasa lebih benar dari Wahabi yang merasa paling benar [menurut mereka]”
KESIMPULAN: “ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar…merasa lebih benar dari siapapun”
Hasan Al-Jaizy 15 Juni pukul 9:03 ·
http://www.facebook.com/el.snakehunter/posts/404194039621987
***
Mengulangi kebodohan lamanya
Kalau ada yang gregetan terhadap kesimpulan Hasan Al-Jaizi menyangkut kelompok yang mengklaim dirinya Aswaja lalu dikomentari Hasan dengan: “ASW merasa lebih benar dari Wahabi yang merasa paling benar [menurut mereka]”
KESIMPULAN: “ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar…merasa lebih benar dari siapapun”;
maka silakan membandingkan. Antara syiah dengan Wahabi, kelomppok yang dikomentari itu lebih pro mana. Lebih pro aliran sesat syiah kan? Jadi itu hanya mengulangi kebodohan lama, yakni dalam sejarahnya, kaum Aswaja itu sudah pro PKI namun dibunhi dan jadi sasaran pembunuhan oleh PKI. Itulah kisah lama yang sikap bodohnya terulang lagi. Dulu pro PKI kini tampkanya cenderung pro aliran sesat syiah, walau malah jadi sasaran ancaman syiah pula. Anehnya, kalau diingatkan, malah galakan mereka. Karena seperti dalam kesimpulan Hasan tersebut  “ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar…merasa lebih benar dari siapapun”.
(nahimunkar.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar