SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Sabtu, 07 Juli 2012

Dari Manakah Asalnya Beduk ?







Pertanyaan :
[Seorang mantan Pandita Hindu ditanya]

Dari manakah asalnya beduk ?

Jawab :

Sebagian sekte Hindu beranggapan bahwa dhak (beduk) itu semula dibawa Dewa-dewa dari Swarga. Di kuil Iswara di Helebeid Maisur India yang dibangun Raja Narasingha (1136-1171) dilukiskan para Dewa membawa beduk. Dewa Surya menghentikan keretanya tepat tengah hari, sehingga segala pekerjaan harus dihentikan sebab akan keluar Dewa-dewa jahat. Untuk tanda meninggalkan pekerjaan, sejak itu dipukullah dhak (beduk). Dalam Surya Deul (pura hitam) di Konara Orissa, dipatungkan kereta Surya tengah berhenti.

Ketika Islam tersebar di Asia Tenggara dan sekitarnya, banyak kuil-kuil berbeduk yang dijadikan masjid. Beduk dalam kuil tersebut tidak disingkirkan tetapi dimanfaatkan, hanya cara dan waktu menabuh beduk itu disesuaikan dengan shalat lima waktu.

Dalam tarikh dan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam, ketika turun perintah shalat lima waktu, timbullah gagasan mencari alat penyeru pada shalat itu. Ada yang mengusulkan mempergunakan lonceng. Rasulullah menolak dengan tegas, karena lonceng itu dipergunakan orang Nasrani. Ada yang mengusulkan dengan terompet, Rasulullah pun menolak dengan keras, karena dipergunakan oleh orang Yahudi. Lalu ada yang mengusulkan menggunakan api, itupun ditolak karena menyerupai peribadatan Majusi. Dan ditetapkanlah panggilan shalat itu dengan adzan.

Sesungguhnya beduk telah dipergunakan dalam agama "Yang". Beduk dalam agama Yang dipergunakan untuk memanggil arwah atau mengusirnya. Misalnya di Klenteng Kong Hu Cu dan Shinto. Jika alat-alat yang dipergunakan oleh mereka ditolak Nabi, maka bagaimanakah kiranya jika mempergunakan beduk yang berasal dari Hindu dan Klenteng itu ? Dalam Islam, meniru peribadatan agama orang lain adalah tasyabbuh dan bid'ah.

Wallahu 'alam.

Sahabatmu Anwar Baru Belajar

Dikutib dari buku :

1. Santri Bertanya Mantan Pendeta (Hindu) Menjawab.


2. Parasit Aqidah.














1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar