SEDERHANA DLM SUNNAH LEBIH BAIK DARI PADA SEMANGAT TAPI SESAT

Jumat, 06 Juli 2012

10 Alasan Wanita Tidak Mau Mengenakan Jilbab Yang Syar’i

engenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah salah satu kewajiban yang Allah syari’atkan kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al Ahzab : 59).

Dengan mengenakan jilbab yang benar maka sesungguhnya wanita tersebut tengah memuliakan dirinya, memuliakan orang lain dan memuliakan agamanya yaitu Islam. Dengan mengenakan jilbab yang benar ia telah memuliakan dirinya karena ia telah menutup semua aibnya dan meliputi dirinya dengan rasa malu sebagai mahkotanya, dan sungguh perkara ini (rasa malu) adalah salah satu harta yang sangat berharga dari seorang muslimah yang sedikit demi sedikit telah mulai hilang, karena begitu banyak diantara muslimah yang mulai kehilangan rasa malunya dan bahkan mereka dengan sengaja mempertontonkan auratnya memperlihatkan aib-aibnya yang seharusnya ia tutup rapat, sesungguhnya mereka telah memposisikan diri berada di dalam posisi yang hina di hadapan Allah, dan mereka menjerumuskan diri-diri mereka kedalam ancaman Allah berupa siksa-Nya di akhirat kelak. Na’udzubillah.

Seorang muslimah yang mengenakan jilbab yang benar sesungguhya ia telah memuliakan orang lain baik keluarganya ataupun orang-orang disekitarnya, karena dengan menutup aurat yang benar maka baiklah nama dirinya dimata manusia dan dengan begitu menjadi harumlah nama keluarganya bahkan ia telah menutup pintu fitnah dimana akan sangat sedikit sekali membuka celah atau kemungkinan ia diganggu atau bahkan dilecehkan oleh para lelaki yang jahat dan kotor hatinya. Subhanallah.

Dengan mengenakan jilbab maka seorang muslimah telah menunjukan pengagungannya kepada agama Islam ini. Bagaimana tidak, karena ia telah membuang jauh hawa nafsunya, membuang jauh keinginan untuk mempertontonkan kecantikan dan auratnya di depan umum, sehingga ia menutup rapat seluruh tubuhnya dnegan jilbab yang benar. Semua ini semata-mata ia telah mengagunggkan dengan amal perbuatannya dan mengedepankan pelaksanaan syari’at Islam yang diwajibkan Allah kepadanya sebagai hambaNya. Dia telah mendahulukan ketaatan kepada Allah dengan melaksakan aturan dalam agama ini dalam perkara berpakaian daripada mengedepankan budaya, tradisi ataupun gaya hidup yang kita lihat seperti yang dilakukan oleh sebagain besar kaum muslimah yang tertipu hawa nafsunya dan tertutup akal mereka karena begitu besar pengaruh budaya dan pemikiran barat yang sesungguhnya telah menuntun mereka kedalam kemurkaan Allah. Na’udzu billaihi mindzalik.

Sungguh tidak ada kerugian sama sekali, bahkan Allah menjanjikan kemenangan yang besar di dunia dan di akhirat bagi para muslimah yang ridha hatinya dan melaksanakan salah satu kewajiban yang Allah syari’atkan kepada mereka yaitu menutup aurat mereka dengan menggunakan jilbab yang benar.

Sungguh, memang mengenakan jilbab yang benar bagi seorang muslimah bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi dijaman sekarang yang mana perang pemikiran dan budaya begitu bergejolak di tengah-tengah kehidupan kaum muslimin, dan begitu banyak kaum muslimin yang terombang-ambing dalam fitnah ini sehingga banyak di antara kaum muslimah yang merasa berat bahkan sangat berat untuk mengenakan jilbab yang benar, kecuali bagi para muslimah yang Allah limpahkan kepada mereka rahmat, ilmu dan hidayahNya, sehingga dengan pertolongan Allah para muslimah ini dengan mudah dan ikhlas mengenakan jilbab yang benar meskipun tidak jarang diantara mereka dicibir, dihina, dianggap asing, diberikan label-label atau sebutan-sebutan yang buruk bahkan di jauhi dan di kucilkan oleh sebagain masyarakat yang notabene mayoritas pemeluk agama Islam, bukan karena mereka penjahat atau melakukan sesuatu hal yang di murkai Allah, akan tetapi mereka begitu dibenci dan di jauhi bahkan di anggap asing karena melaksanakan sebuah kewajiban yang mulia yaitu mengenakan jilbab yang benar.

Sungguh benar apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Sesungguhya Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: dikatakan kepadanya; siapakah mereka wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang-orang yang baik (taat), ketika manusia telah rusak”. (HR. Abu Amr Ad Dani di Sunan Waridah fil fitan 1/25, Al Ajurri di Ghuraba’ hal. 21, silahkan lihat Silsilah Shahihah 3/267).

Juga sabda Beliau bahwa orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti menggenggam bara api,  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan orang yang berpegang teguh dengan kebenaran pada zaman keterasingan dengan seorang yang sedang memegang bara, ketika bara dipegang terasa panas yang sangat, hingga mengelupaskan kulit dan mengeluarkan air mata karena pedihnya, akan tetapi ia harus tetap digenggam, sebab ia adalah perintah dan ia adalah satu-satunya jalan keselamatan. Jika ia dilepas, berarti lepaslah agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

"Akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara”. (HR.Tirmidzi 4/526 no. 2260 berkata Tirmidzi bahwa hadits ini dari jalan gharib. dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/645 no. 957).

Begitu juga dengan wanita yang mengenakan jilbabnya di dalam lingkungan dan jaman yang rusak ini, maka hal itu begitu berat baginya bagaikan memegang bara api. Akan tetapi bila para muslimah ini melepas jilbabnya maka sungguh terbakarlah rasa malu dan kehormatannya sebagaimana bara api membakar kayu bakar yang menyisakan arang yang hitam. Na’udzubillah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, sesungguhnya sangat banyak dari kalangan para muslimah yang sudah mengetahui dan faham kewajiban yang Allah wajibkan kepada mereka yaitu kewajiban mengenakan jilbab yang benar untuk menutup auratnya, sebagai ciri bahwa mereka adalah seorang muslimah.

Akan tetapi begitu banyak alasan-alasan yang keluar dari mulut para muslimah yang enggan mengenakan jilbab, tentu semua ini tidak dibenarkan oleh Allah dan RasulNya, karena biasanya alasan-alasan tersebut berasal dari bisikan syaithon dari kalangan jin dan manusia yang telah membisikan keraguan kepada manusia untuk menjalankan setiap kewajiban yang Allah wajibkan atas hamba-Nya. Ataupun mungkin alasan-alasan ini kelaur dari mulut-mulut para muslimah sebagai ciri sangat jauhnya mereka dari petunjuk Allah yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, sangat jauhnya mereka dari ilmu (pemahaman) agama yang benar dan jauh dari bimbingan para ulama yang shalih.

Mungkin mereka lebih dekat dengan bujuk rayu syaithan dan lebih nyaman dengan pola hidup orang-orang kafir musuh-musuh Allah, orang-orang kafir yang telah sangat jelas menipu mereka, sehingga dengan sadar ataupun tidak para muslimah ini telah berada dalam kesesatan yang sangat mengancam keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat. Mudah-mudahan Allah mem berikan mereka taufiq dan hidayahNya. Aamiin.

Dibawah ini beberapa contoh dari alasan-alasan yang seringkali keluar dari mulut para muslimah ketika mereka ditanya mengenai kesiapan mereka mengenakan jilbab yang merupakan salah satu kewajiban yang Allah wajibkan kepada mereka. Alasan-alasan itu antara lain :

1. Alasan pertama : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab

Mari kita tanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka yang berkata demikian.

Pertanyaan Pertama : apakah dia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami dia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaaha Illallah! Yang menunjukkan dia taat pada aqidahnya dan Muhammad Rasullullah! Yang menyatakan dia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya.

Pertanyaan Kedua : Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, dia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang suci.

Kesimpulannya:

Apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa dia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya? Tentu tidak ada jawaban yang bisa menepis kedua pertanyaan ini kecuali sangat jelas dari hawa nafsu belaka. Naudzubillah.

2. Alasan ke dua : Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.

Hal seperti ini sering kali terjadi, dan ini diakibatkan orang tua sangat jauh dari pemahaman agama yang benar. Bahkan kejadian ini banyak menimpa para remaja muslimah yang telah mendapatkan taufiq dan hidayah dari Allah dan juga ilmu yang benar sehingga mereka berusaha menjalankan kewajiban memakai jilbab yang benar.

Saudariku yang dirahmati Allah sungguh yang telah menjawab hal seperti ini adalah manusia ciptaan Allah 'Azza wa Jalla yang termulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam nasihatnya yang sangat bijaksana :

"Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah." (HR. Ahmad).

Sungguh kita fahami bersama bahwa status orangtua dalam Islam menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah ayat disebutkan:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ...

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak ... " (An Nisaa': 36).

Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah. Allah berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا ... 

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..."(Luqman: 15).

Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah Allah tidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; "dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.

Kesimpulannya:

Bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah yang menciptakan kamu dan ibumu.

3. Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.

Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang penipu yang mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab.

Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur. "Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya?  Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?" 

Bukankah Allah telah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui." (An Nahl: 43).

Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu. Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah daripada kesenangan syaithan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.

Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah telah berfirman:

... وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا, وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا.

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.." (Ath Thalaq: 2-3).

Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah . Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah dan Rasul-Nya, dan bergantung pada hukum Allah yang murni. 

Dengarkanlah kalimat Allah berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu." (Al Hujuraat: 13).

Kesimpulannya :

Lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhaan Allah, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.

4. Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya.

Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab. Allah memberikan perumpamaan dengan berfirman:

... قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ 

"... Katakanlah: Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui." (At Taubah: 81).

Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka Jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat tall besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka. Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum Allah dan berlindunglah dari hukumanNya, sebagaimana tercantum dalam ayat:

لا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلا شَرَابًا , إِلا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا 

"Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah" (An Naba’: 24-25).

Kesimpulannya :

Surga yang Allah janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.

5. Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.

Kepada saudari itu kita katakan, "apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti! Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka tekut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya.

Tidakkah kamu melihat bagaimana syaithan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu? Allah menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit." (HR Bukhari dan Muslim).

Mengapa engkau wahai saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya? Allah sesungguhnya telah berfirman:

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ 

"maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa" (Al Baqarah: 66).

Kesimpulannya :

Apabila kau memegang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah setelah kau melaksanakannya.

6. Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit, jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.

Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah dan bukanlah suami yang berharga sejak semula.

Dia adalah suami yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah , dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatan kepada Allah, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (Thaaha: 124).

Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata sudah menikah sementara mereka tetap saja tidak memakai jilbab? Lalu kapan engkau akan menjalankan perintah Allah yang telahmenciptaakanmu dan suamimu?

Kesimpulannya:

Tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan, dan tidak patut taat kepada perintah suami yang menyalahi perintah Allah.

7. Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Adh Dhuhaa: 11).

Ada muslimah yang berkata: 'Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?'

Jadi, saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah untuk mendukung kepentingannya sesuai pemahamannya sendiri! Dia meninggalkan tafsir para ulama.

Tentu alasan ini jauh dari kebenaran bahkan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata dalam memahami Al Qur’an, dan bukti bahwa wanita ini jauh dari ilmu yang benar.

Kita katakan kepada muslimah tersebut “mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat:

... وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ...

"Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya." (An Nuur: 31).

Dan Firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 

"Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.." (Al Ahzab: 59).

Dengan pernyataan salah dari muslimah tadi, sungguh dia telah membuat syariat sendiri bagi dirinya. Dan sesungguhnya telah dilarang oleh Allah, apa yang disebut tabarruj (Bersolek).

Berkah terbesar dari Allah bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini dengan benar dnegan bimbingan para ustadz dan para ulama yang shalih? 

Kesimpulannya:

Apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?

8. Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk olehNya.

Mari kita bertanya kepada mereka yang beralasan seperti ini, rencana atau langkah apa yang akan ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah seperti yang dia katakan? Apakah ia akan menunggu malaikat turun dari langit lalu mengingatkan dirinya agar mengenakan jilbab ? apakah seperi itu yang ia harapkan?.

Mari kita tanyakan kepada saudari kita ini,  apakah dirinya telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surat Al-Fatihah ayat ke 6 yang sering dia baca saat sholat, "Tunjukilah kami jalan yang lurus" serta mencari ilmu berkumpul mencari pengetahuan kepada para ustadz, para ulama atau kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab? Kenapa kau habiskan waktumu menunggu sesuatu yang salah menurut prasangkamu. Maka carilah ilmu dan bersungguh-sungguhlah dalam mengamalkannya.

Kesimpulannya:

Apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah, dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu. Kecuali dia akan membuat alasan yang sesungguhnya semakinmenjauhkan dirinya dari Allah.

9. Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya.

Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji. Ketahuilah wahai saudariku yang dirahmati Allah, bahwa Malaikat kematian mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah berkehendak dan ia bisa datang hari ini, besok ataupun bahkan satu jam kemudian kepadamu.

Sungguh sayangnya saudariku, kematian tidak diskriminatif, memilah-milih antara orang yang tua dan orang yang muda, dan dia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan, Allah berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ 

"tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Al An'aam: 34).

Saudariku yang dirahmati Allah, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah, sebagaimana firman Allah:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ 

"Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi ..." (Al Hadiid: 21).

Saudariku, jangan melupakan Allah atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya di akhirat kelak. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhiNya. Janganlah engkau menjadi soerang mahluk yang Allah golongkan kedalam golongan munafik, seperti dalam firmanNya:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (Al Hasyr: 19).

Saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.

Kesimpulannya:

Berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.

10. Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan dicap dan digolongkan dalam kelompok tertentu!

Ketahuilah, bawah pengelompokan atau pengkotak-kotakan dalam agama Islam ini adalah sesuatu yang buruk dan kita harus membenci pengelompokan.

Ketahuilah, bahwa hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syaithan yang terkutuk (Hizbusy Syaithan) yang selalu melanggar Allah. Apabila engkau, saudariku, memegang teguh perintah Allah, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang tidak memakai jilbab, kau tetap akan dimasukkan dalam kelompok Allah. Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syaithan, yang mana syaithan itu merupakan seburuk-buruknya teman.

KESIMPULAN

Saudariku ketahuilah tubuhmu, dipertontonkan di pasar, para syaithan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah dan murka Allah dan menyenangkan syaithan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan dan semakin mendekatkanmu kepada neraka-Nya.

Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian.

Ingatlah dan perhatikanlah firman Allah yang berbunyi:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan." (Ali `Imraan: 185).

Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu meninggalkan stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat!

Mari kita berubah mulai saat ini, karena tidak waktu lagi untuk berubah kecuali saat ini juga, sungguh begitu banyak orang yang mengulur-ngulur kebaikan hingga dirinya tidak pernah menemukan kebaikan itu ada padanya, sampai dirinya terbujur kaku dimana saat itu tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat bahkan untuk mengedipkan mata pun, sungguh tidak bisa.

Mari kita jadikan diri kita menjadi orang-orang yang mudah menjalankan Syari’at Islam dengang berbekal ilmu dan pemahaman yang benar, berbekal niat dan kemauan yang keras, bukan kelalaian dan kebodohan yang tidak akan membawa keberuntungan sedikitpun di dunia dan akhirat.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan kita semua, aamiin. -Wallahu a’lam bishshawwab-

Jatinangor, 21 Februari 2012
Abul Aliyah el Bandungie Muhammad Dzul Fadly Sa’id

(Catatan: Artikel yang sangat luar biasa, ditulis dengan hati yang tulus, sehingga membacanya pun menancap dihati kita –insya Allah-. Ana dapatkan artikel ini dari seorang kawan –ana lupa siapa-. Ana harap bagi yang merasa menulis tulisan ini atau mengetahui siapa yang menulisnya, silahkan tuliskan dikomentar, agar ana bisa cantumkan namanya di artikel ini. Jazakumullah khairan, semoga Allah membalas dan memberkahi ilmu dan amal dari penulis, pembaca, pemilik blog ini, dan kita semua. Aamiin).
1
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar